Tampilkan postingan dengan label Celotehku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celotehku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2014

Haul dan Mbah Wahab

Oleh: Ali Syahbana

Pada malam jum’at, 11 September 2014 penulis berkesempatan ikut menghormati dan menghadiri haul ke-43 salah satu tokoh penting pun ulama kharismatik NU, KH. Abdul Wahab Hasbullah yang diselenggarakan oleh rekan-rekan PCINU Maroko dikota Kenitra. Acara yang hemat penulis sangat penting diadakan, pertama selain untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal Indonesia, juga sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan sekaligus mengais keberkahan kepada tokoh yang sudah tidak asing dikalangan Nahdliyin tersebut, menjadi istimewa sebab dihadiri bapak Duta Besar RI untuk kerajaan Maroko, Bpk. KH. Tosari Widjaya yang juga tokoh kesepuhan NU yang memiliki kedekatan sejarah dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Haul sendiri merupakan istilah untuk peringatan satu tahun wafatnya seseorang. Biasanya yang diperingati adalah seorang kyai, tokoh kharismatik, sosok berpengaruh dalam masyarakat, atau tidak menutup kemungkinan juga orang tua, keluarga maupun kerabat. Haul digelar selain untuk mendoakan sosok atau tokoh yang telah wafat, juga mengenang dan mengambil hikmah dari laku keteladanan tokoh tersebut.

Bagi kalangan pesantren haul merupakan tradisi tahunan yang seakan wajib dilakukan. Kebanyakan peringatan haul disatukan dengan hari lahir (Harlah) pesantren atau hari-hari besar keagamaan seperti maulid nabi agung shallallahu’alaihi wasallam dan lain sebagainya. Singkatnya, Haul yang sudah menjadi tradisi lokal masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, bisa memberikan pancaran keberkahan dan nilai kemaslahatan baik di dunia dan akhirat bagi segenap kalangan yang hadir menghormati dan memperingati acara tersebut.

Ada beberapa hal yang menarik dicatat dari acara haul yang diisi dengan diskusi tentang biografi dan pengenalan lebih dekat terhadap sosok KH. Abdul Wahab Hasbullah serta wejangan dari bapak Duta Besar, setelah ritual pembacaan maulid dan doa bersama tersebut.

Pertama, KH. Abdul Wahab Hasbullah atau biasa dikenal dengan sebutan “mbah Wahab” adalah termasuk tokoh ulama kharismatik yang berjasa besar dalam merintis, mendirikan, menggerakkan, dan mengembangkan NU yang kini sebagai organisasi kemasyarakatan islam terbesar di Indonesia, bahkan di Dunia. Dalam kiprah perjalanan hidup beliau tentu banyak proses yang dilalui hingga menjadi tokoh besar dikalangan umat Indonesia, khususnya dilingkungan nahdliyin.

Sejak kecil mbah Wahab sudah digembleng dengan asupan pendidikan dalam lingkup keluarga, terutama pendidikan keagamaan baik secara teoritis maupun praktis. Bahkan selama kurang lebih 20 tahun sejak masa kecilnya, beliau secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari beberapa pesantren. Hal ini memberikan penekanan bahwa pendidikan dini dalam lingkup keluarga memberikan efek pondasi yang sangat kuat bagi kehidupan seseorang. Apalagi dizaman sekarang dengan kecanggihan dan perkembangan teknologi yang kadang membuat manusia lupa diri, lupa akan tujuan kehidupan yang hakiki.

Kedua, saat menimba ilmu di Mekkah penulis melihat adanya kesadaran tanggung jawab sosial dari tokoh yang lahir pada 31 Maret 1988 tersebut. Pengetahuan yang digali dan dikembangkan dinegeri tersebut tentunya harus dikembalikan dan di-ejawantahkan untuk berkhidmah demi kemaslahatan umat, lebih luas lagi untuk tanah air yang beliau cintai. Ini bisa dilihat dari aktivitas pergerakan beliau selepas kembali dari Mekkah dengan membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) pada 1914, selanutnya mendirikan wadah pengembang pendidikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah air) 1916, serta membentuk organisasi islam kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926 bersama dan atas restu Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Ketiga, khazanah keilmuan yang beliau gali dan kembangkan dinegeri arab tidak serta merta menjadikan beliau lupa Indonesia. Dalam artian beliau tetap menjadi orang Indonesia tulen yang pernah mengenyam pendidikan di negera arab, tidak meng-arabisasi Indonesia baik secara pemahaman ataupun tradisi kemasyarakatan. Justu ilmu-ilmu yang beliau peroleh dielaborasikan dengan tradisi lokal yang ada dengan arif dan bijaksana. Sebagai contoh saat Al Irsyad, salah satu komunitas saat itu, yang dikomandoi KH. Ahmad Dahlan mempermasalahkan dan mebid’ahkan tradisi-tradisi lokal yang berkembang beliau maju membela tradisi tersebut dengan kedalaman dan kematangan keilmuan yang dimiliki.

Terlepas dari semua hal diatas dan tentu masih banyak lagi semangat keteladanan perjuangan mbah Wahab yang belum tercatat, mestinya momen haul ini bisa menjadi penggugah kita semua, khususnya kader-kader NU di Maroko agar bisa meneruskan cita dan perjuangan beliau. Dimulai dengan membekali diri dengan pemahaman keilmuan yang matang ditambah kesadaran akan tanggung tawab sosial untuk berkhidmah demi kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat. Termasuk bagaimana turut andil mengaktualisasikan ungkapan beliau yang juga PR kita bersama: “bagaimana menyebarkan gagasan NU secara lebih efektif dan efisien yang selama ini hanya dijalankan melalui dakwah dari panggung ke panggung dan pengajaran di pesantren.” Wallahua’lam bisshawab.

Kenitra, 11 September 2014
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Minggu, 25 Mei 2014

Suka Duka Dalam Sepakbola

Sepakbola bisa dibilang tak pernah sepi dari para penikmat. Entah daya tarik apa yang membuat penontonnya selalu padat. Baik melihat di stadion ataupun lewat layar televisi sepakbola selalu jadi tontonan yang memikat. Hiruk pikuk suporter yang menggelora. Kesatuan semangat yang tetap membara. Hingga tawa suka atau rautan duka pun ada dalam sepakbola.

Sejak kecil dalam dunia sepakbola penulis (mungkin juga pembaca) sering mendengar istilah "Bola itu bundar!!". kalau boleh ditafsirkan istilah tersebut bermakna bahwa apapun bisa terjadi dalam sepakbola. Saat bola bundar masih bergulir, selama peluit tanda berakhir belum brbunyi, kedua tim masih punya kesempatan untuk merubah nasib masing-masing. Yang kalah bisa menang atau sebaliknya yang sedang dalam posisi menang bisa jadi malah kalah. Meski waktu akhir permainan sudah masuk hitungan detik sekalipun, melulu ada kesempatan merubah keadaan. Yang menarik, tim “kroco pilek” pun tak jarang menjungkalkan tim dominan dengan pemain bintang yang bertaburan.

Begitulah spkbola. Hasil akhirnya sulit diterka. Dan sepertinya itu yang terlihat dalam final liga champion (kompetisi antar klub eropa) yang mempertemukan Real Madrid dengan Atletico Madrid, Sabtu (24/5) di staion Lisbon Portugal. Semua antek Atletico mengira mereka akan juara. Bagaimana tidak!! hingga waktu tambahan yang akan brakhir kurang dari dua menit mereka masih unggul atas lawannya. Suka cita official tim dan suporter pun semakin kentara, termasuk rekan dari turki yang kebetulan nonton bareng dengan penulis, yang juga pndukung mutlak Atletico dengan icon ardan turan-nya yang notabene berkebangsaan turki.

Dilain sisi, raut duka petinggi dan suporter Real Madrid jelas terlihat. Alih-alih mewijudkan La Decima (juara kesepuluh kali) seakan sirna. Gempuran tim kesayangan  mereka yang bertubi-tubi seperti sia-sia. Mungkin satu yang mereka butuhkan saat peluit tanda berakhir akan ditiup, kesiapan mental dan kebesaran hati menerima tahta jawara direbut tim lawan.

Namun lagi-lagi bola itu benar-benar bundar. Semua menjadi masih mungkin sebelum peluit ditiup. perjuangan sekecil apapun sangat berharga dalam sepakbola. Ketidak tenangan dan kurang hati-hatipun bisa jadi petaka. Dan betul saja, tepat kurang dua menit waktu usai Atletico mendapatkannya dalam sepakbola. Keunggulan mereka buyar setelah tim lawan menyamakan kedudukan. Semua cemas. Sedang mesin semangt tim lawan esmakin memanas. Hingga akhirnya suka mereka menjadi duka, duka lawan berujung tawa bahagia. Yah, Real Madrid akhirnya kluar dr tekanan, membalikkan keadaan dan menang untuk juara.

Selalu ada suka dan duka dalam sepakbola. Meminjam celotehan salah satu komentator arabnya, harus ada menang-kalah dalam suatu pertandingan puncak. yang menang ber-euforia dengan pesta ceria. Sedang yang kalah tak sedikit menangis dirundung nestapa.

Jika sepakbola termasuk bagian mikro dari roda kehidupan, tentu kehidupan yang lebih besar cakupan pertarungannya pun selalu ada suka dan duka. Melulu menyimpan kesempatan-kesempatan yang laik dicoba. Tapi satu yang patut disadari, pertempuran (ikhtiar) manusia berarti tidak selamanya mulus. ada saat dimana manusia bahagia. Dalam keadaan tersebut tugas manusia tak boleh alpa mensyukurinya. Ada momen dimana manusia harus siap dengan nuansa duka. Menelan pil pahit kegagalan sementara. Dan kesiapan mental untuk bersikap ikhlas menerima (qanaah) dan sabar adalah kuncinya. Tentu tanpa melupakan kontemplasi untuk tetap semangat bangkit dan merengkus hasil terbaik. Bravo Sepakbola!!


Istanbul, 25 Mei 2014
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Selasa, 18 Juni 2013

"Nisfu Sya'ban" dan Tradisi Kemasyarakatan

Oleh: Ali Syahbana

Nisfu Sya’ban merupakan istilah dimana bulan sya’ban berada dipertengahan, atau lebih tepatnya berada ditanggal 15. Adapun “malam nisfu sya’ban” adalah sebutan untuk malam ke 15 pada bulan tersebut.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa malam nisfu sya’ban memiliki kemuliaan dan keutamaan agung dalam islam. Bahkan dalam “Tuhfatul akhwan” Syekh Ahmad bin Hijazi Syihabuddin al Fasyni as Syafi’i (w. 978 H) mengistilahkan malam tersbut dengan “malam pembebasan”, “malam berdoa”, “malam pengijabahan”, “malam pengampunan dan pembebasan dari api neraka”, dan lain-lain. Dan istilah malam pengijabahan atau pengabulan doa juga sesuai dengan apa yang dikemukakan Imam as Syafi'i rahimahullah dalam kitabnya al-Umm; "Telah sampai pada kami bahwa dikatakan: Sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam, yaitu malam jum'at, malam hari raya Idul Adha, malam hari raya 'Idul Fitri, malam pertama di bulan Rajab dan malam Nisfu Sya’ban."

Sedangkan dalam kitab “shahih”nya Imam Ibn Hibban meriwayatkan dari sahabat Mu'az bin Jabal radiallahu 'anhu bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Allah menjenguk datang kepada semua makhluk-Nya di malam nisfu sya'ban, maka diampuni segala dosa makhluk-Nya di malam nisfu sy'aban, kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan." Begitu juga dalam riwayat Imam Ahmad dengan redaksi tidak jauh berbeda yang sanad atau mata rantainya oleh Imam al Hafidz al Mundzir dikategorikan “layyin”, dalam arti bebas tidak begitu bermasalah. (lihat: Husnul Bayan fi Lailati an Nisfi min Sya’ban karya Syekh Muhaddits Abdullah bin Muhammad bin as Siddiq al Ghumari)

Sedikitnya, seperti itulah potret dasar kemuliaan dan keistimewaan malam nisfu sya’ban. Dalam tradisi kebanyakan masyarakat islam Indonesia baik didesa ataupun dikota, dipesantren atau diluar pesantren, dimushala-mushala dan tempat lainnya, malam tersebut banyak diisi dengan amalan-amalan positif seperti berdzikir, berdoa, membaca al Qur’an atau surat Yasin, dan ada juga (sebagaimana penulis pernah alami saat dipesantren) yang diisi dengan shalat sunah tasbih.

Pada intinya, apapun bentuk dan praktek amaliahnya tentu menghidupkan malam nisfu sya’ban, mengutip apa yang dikemukakan Syekh al Ghumari, sangat mustahab atau disunahkan. Terlebih kemuliaan dan keagungan malam tersebut telah jelas secara umum. Waba’du, semoga kita termasuk golongan yang memperoleh kemuliaan dan keberkahan malam nisfu sya’ban dengan menghidupkannya. Wallahua’lam bisshawab.


*Kenitra, 18 Juni 2011 (9 Sya’ban 1434 H)
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Selasa, 14 Mei 2013

Salah Kaprah Dibulan Rajab

Oleh: Ali Syahbana

Salah Kaprah, bagi sebagian dari kita yang belum mafhum boleh juga diartikan adanya ketidak-pasan akan penempatan sesuatu. Atau kalau mau merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), salah kaprah adalah kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai kesalahan. Menjadi umum karena sebuah kesalahan telah melalui proses pemakaian yang luas.

“Salah Kaprah dibulan Rajab” pada akhirnya bisa digambarkan adanya ketidak-pasan amaliah manusia dibulan tersebut. Atau ada ketidak-sesuaian pemahaman sebagian kelompok terhadap bulan tersebut. Atau bisa juga ada kekeliruan-kekeliruan umum lainnya yang tidak terasa terjadi.

Contoh ‘basi’nya; Ada sebagian kelompok yang keukeuh menyatakan bid’ah bagi pelaku puasa di bulan Rajab. Bahkan tidak tanggung-tanggung ulama kaliber -Allah yarham- Imam Ibnu Hajar dijadikan sandaran penguat dalam berargumen. Beliau, Ibnu Hajar rahimahullah, dalam kitab “Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab” mengatakan; “Tidak terdapat riwayat yang sahih yang bisa dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh, puasa di tanggal tertentu di bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Abu Ismail Al-Harawi.”

Serasa kurang afdhal, argument mereka pun diperkuat lagi dengan statemen -Allah yarham- Imam Ibnu Rajab dalam “Lathaiful Ma’arif” yang menegaskan; “Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad’”.

Ungkapan dua ulama diatas memberikan pemahaman bahwa memang tidak ada sandaran valid yang secara khusus mengarah pada kebolehan berpuasa dibulan Rajab. Namun, terlalu terburu-buru juga jika hal tersebut menjadikan klaim bid’ah terlontar begitu saja. Tidakkah mereka menelaah juga pendapat ulama yang juga kredibel, Imam As Syaukani rahimahullah yang mengatakan; “Bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa di dalamnya kurang kuat dijadikan landasan, maka hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan. Di samping itu, karena juga tidak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.”

Jika demikian, patutlah keutamaan berpuasa pada bulan haram yang disabdakan kanjeng Nabi: “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan  Rajab).” HR Imam Muslim menjadi pembebas dari klaim bid’ah dan ke-salah kaprahan.

Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya’ Ulumiddin pun berkomentar bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan beliau menyatakan bahwa Rajab terkategori Al-Asyhur Al-Fadhilah dan Al-Asyhur Al-Hurum di samping Dzulhijah, Muharram dan Sya’ban.

Contoh lainnya; ada pelaku puasa dibulan Rajab yang disebabkan ‘iming-iming’ bahwa puasa sehari seakan puasa setahun, puasa 7 hari pintu jahanam tertutup untuknya, dan seterusnya, dan sebagainya. Bila hal tersebut menjadi tujuan dan bahkan keyakinan, maka, sependendek pemahaman penulis, ini juga sebuah ke-salah kaprahan. Mengapa?? Sebab semua riyawat yang menyatakan hal tersebut berstatus lemah dan tidak dapat dijadikan sandaran hukum. Dan terlalu lebar jika riwayat-riwayat tersebut harus dibeberkan disini, cukuplah ungkapan pakar hadits caliber Imam Ibnu Hajar diatas menjadi isyaratnya.

Terakhir, mestinya bagi kelompok yang gemar memberikan ‘stempel’ bid’ah mampu lebih bijak dan obyektif lagi sebelum mengambil keputusan. Terlebih yang pemahamannya belum sampai taraf ulama atau kyai, dalam artian masih sekedar ikut-ikutan nyetempel. Dan bagi pelaku puasa penulis ucapkan selamat menjalankan ibadah puasanya, selamat menuai keberkahan dan kemuliaan bulan Rajab. Berpuasalah tanpa ‘embel-embel’ karena ini dan itu, tapi semata-mata mengharap ridha Allah swt.. Wallahua’lam bisshawab.

Kenitra, 14 Mei 2013

»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Minggu, 12 Mei 2013

Kisah Dimalam Minggu dan Pengajian Kaum Urakan


Oleh: Ali Syahbana

Ini cerita dimana penulis sendiri tidak pernah mengira-ngira keterjadiannya sebelumnya. Berawal saat lagi ‘iseng’ refreshing menonton pertandingan Liga Spanyol di café dekat kontrakan, tiba-tiba pelayan café yang memang sudah saling paham mengajak dan mengharap penulis ikut makan malam dirumahnya.

“Syuff, tamsyi ta’assya ma’ana, ma’a drary (Mau ga’ makan malem bareng temen-temen)?”, tawarnya.
“Daba (Sekarang)?? Feyn blaiss (Dimana lokasinya)??, tanyaku.
“Qreeb..’Ain Sba’ (Dekat, di ‘Ain Sba’, sekitar 5 km dari cafe)”, jawabnya.
“Syal min saa’a nabqa tsammah wa kayfasy rujuu’ (Berapa lama disana, trus gimana saya pulangnya)?”, tanyaku lagi.
“Sa’ah au sa’atain. Tamsyi ma’aya bi motor marhaba au tamsyi ma’a drary bi tonobil masyi musykil, wa tarji’ ma’ahum bi tonobil (Sejam dua jaman lamanya. Jalan bareng saya pake motor silakan atau sama temen-temen pake mobil juga ga’ masalah, nanti pulang dengan mereka naik mobil)”, jawabnya lagi.

Dan setelah lobi transaksi, kata ‘deal’ untuk hadir pun terputusi. Penulis pun ‘cuek’ dengan sandangan sarung dan kaos lengan panjang, sebab sudah menjadi kebiasaan sehari-hari saat keluar dekat kawasan kontrakan.

Sesampainya dilokasi penulis baru tahu bahwa dirumahnya lagi ada tasyakuran khitan salah satu anaknya. Suasana pun ramai dengan para tamu dari berbagai latar belakang, dari kelas ustadz sampai yang sedikit urak-urakan, yaitu teman-temannya yang biasa nongkrong di café sambil ngerokok. Dan sudah ma’lum dikalangan orang Maroko bahwa konotasi para perokok cenderung orang yang suka hura-hura sampai mabuk-mabukan.

Yang mungkin menarik diketengahkan, saat menjelang makan malam penulis ditempatkan diruangan khusus bersama teman-temannya yang kebanyakan urak-urakan tersebut. Tak ayal obrolan dan canda tawa pun terjadi. Dan entah iseng-iseng atau sengaja, salah satu dari mereka membuka obrolan tentang praktek keagamaan, yang ada di Maroko khususnya, hingga seolah ruangan menjadi medan diskusi atau mungkin pengajian. Pertama tentang umat islam yang dituntut manut Rasulullah saw. kenapa shalat taraweh berjamaah, padahal saat itu -katanya- beliau shalat sendirian. Di Indonesia sendiri -katanya- berapa jumlah shalat taraweh? 8 atau 23?.

Yang kedua tentang praktek salaman dan membaca Al Qur’an secara jamaah setelah shalat. Juga tentang penetapan awal puasa dan Idul Fitri. Beberapa permasalahan tersebut ada yang berbau bid’ah, katanya.

Tentu bila obrolan yang penulis alami dituangkan secara detil akan memakan banyak lembaran-lembaran yang justru bisa membuat jenuh pembaca. Secara garis besar, dengan pemahaman keagamaan yang terbatas, penulis salah satunya menanggapi bahwa untuk mengikuti kanjeng Nabi saw. bagi kita yang masih awam cukuplah mengikuti (taqlid) kepada ulama-ulama yang tersebar disetiap daerah. Apa pasal? Sebab apa yang disebarkan para ulama (atau kyai) sudah barang tentu sumbernya dari kanjeng Nabi saw. melalu jalur para sahabat beliau, tabi’in (generasi setelah sahabat), ulama empat madzhab, dan seterusnya.

Terkait masalah klaim bid’ah, memang ada sebagian kelompok yang kurang lengkap dalam menyampaikan pemahaman yang sesuai mayoritas ulama. Mereka hanya garang menyatakan; “setiap bid’ah atau perkara baru yang tidak dilakukan Rasulullah adalah sesat dan segala kesesatan nerakalah tempatnya”. Padahal mayoritas ulama yang tidak diragukan lagi kredibilitas dan kealimannya memberikan pemahaman bahwa bid’ah adalah hal baru yang tidak ada sandaran asalnya dari tatanan syariat, baik secara khusus ataupun umum.

Lagi pula, meminjam ta’bir Cak Nun, saat orang selesai shalat maka dia telah bebas, terserah mau melakukan hal apa saja. Jangankan salaman, kasarannya ‘beol’ setelah shalat juga sah-sah saja. Begitu juga baca Al Qur’an. Adakah nash yang tegas menyatakan pelarangan membacanya?? Jadi tidak juga menjadi masalah mau dibaca sendiri ataupun berjamaah, sebagaimana banyak ulama yang memperbolehkannya. Tinggal ikuti saja ulamanya. “Gitu aja ko’ repott!!”.

Sama halnya juga dengan penetapan awal puasa dan lebaran, kalau belum mampu ijtihad sendiri dalam menentukannya tinggal ikut saja ketetapan pemerintah setempat. Toh ketetapan tersebut juga berdasarkan ijtihad mayoritas ulama yang ada didalamnya. Kenapa harus persulit hal yang sebetulnya mudah??

Ala kulli hal, terlepas dari itu semuanya tentu hal ini menjadi PR bagi kita semua bahwa meskipun terbilang sepele ternyata masih banyak pemahaman-pemahaman keagamaan yang meminjam istilah Syekh Sayyid Muhammad Alawi al Maliki-nya masih “yajibu an tushohhah”. Dan hemat penulis ada baiknya juga jika kitab “Itqan as Sun’ah fi Tahqiq Ma’na al Bid’ah” karya Syekh Abdullah bin Muhammad bin Siddiq al Ghumari at Tanji al Maghribi serta kitab “Mafahim Yajibu an Tushahhah” karya Syekh Sayyid Muhammad Alawi al Maliki dikaji secara cermat dan khidmat. Wallahua’lam bisshawab.

Kenitra, 13 Mei 2013
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Rabu, 24 April 2013

Mengenal Maulay Adussalam bin Masyisy, ”Quthbul Aqthab” dari Maroko

Oleh: Ali Syahbana

Bagi kebanyakan ulama, bahkan masyarakat bisaa di Maroko, nama Maulay Adussalam bin Masyisy sudah tidak asing lagi ditelinga mereka. Beliau, sebagamana tercatat dalam kitab at Thabaqat as Syadziliyah al Kubro karangan Syekh Hasan bin Muhammad bin Qasim at Tazy, merupakan guru dari tiga wali quthub (pemimpin para wali), yaitu Syekh Ahmad al Badawi (murid wali quthub Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Syekh Ahmad Rifai), Syekh Ibrahim Ad Dusuqi dan Syekh Abu al Hasan Ali bin Abdillah as Syadzili (Pendiri tarekat Syadziliyah). Dari sini, sependek pengamatan penulis, beliau dalam dunia perwali-an masuk kategori “al Ghouts” yang berarti penuntun atau pembimbing kepada kebaikan dan kebagusan, khususunya dalam menuju makrifat kepada Allah swt., atau ”Quthbul Aqthab” (Pemimpinnya para pemimpin wali).

Maulay Abdussalam bin Masyisy dengan kedalaman ilmu dan kezuhudannya yang tinggi adalah sosok yang sangat tertutup dan tidak ingin di kenal oleh manusia. Hal ini bisa dilihat dari salah satu doa beliau, “Ya Allah aku mohon kepada-Mu agar makhluk berpaling dariku sehingga tidak ada tempat kembali bagiku selain kepada-Mu“. Allah swt. pun akhirnya mengabulkan permohonan beliau tersebut dan karena sangat ketertutupannya itu sampai tidak ada yang mengenal beliau kecuali waliyullah Syeikh Abu al Hasan as-Syadzili.

Perkenalan dan pertemuan agung beliau dengan muridnya, Syeikh Abu al Hasan as Syadzili, berawal saat Syeikh Abul Hasan, yang saat itu dipuncak perasaan yang dahsyat untuk bertaqarrub kepada Allah swt. berharap hatinya penuh cahaya ma’rifatullah, mengembara mencari Mursyid yang Quthub. Sampailah beliau ke negeri para wali di Irak. Dari satu wali ke wali lain yang beliau temui belum juga membuatnya puas sebelum bertemu dengan seorang wali quthub  di zaman itu. Padahal dari Maroko Syeikh Abul Hasan menembus ribuan kilometer menuju Irak, mengarungi padang sahara yang luar bisaa luasnya, demi mencapai cita-citanya yang luhur.

Akhirnya beliau bertemu dengan salah seorang wali di Irak. ketika itu sang wali yang beliau temui berkata kepadanya: “Wahai anak muda, engkau mencari Quthub jauh-jauh sampai di sini. Padahal orang yang engkau cari itu sebenarnya di negeri asalmu sendiri. Beliau adalah Quthubuz zaman yang agung saat ini. Sekarang pulanglah engkau ke Maghrib (Maroko) dari pada bersusah payah berkeliling di negeri ini. Saat ini beliau sedang berkhalwat di puncak gunung di sebuah gua. Temuilah beliau dan cari disana…!”

Setelah itu beliau bergegas menuju Maroko dan kembali ke desanya Ghamarah, tempat dimana beliau dilahirkan. Hatinya tak terbendung untuk segera bertemu dengan Sang Quthub yang menetap dipucuk gunung (jabal al ‘alam) itu. Ketika menempuh jalan berliku menuju puncak gunung itu Syeikh Abul Hasan akhirnya bertemu juga dengan Sang Quthub tersebut. Kemudian Sang Quthub (Maulay Abdussalam bin Masyisy) memerintahkannya berkali-kali untuk mandi didekat gua yang kebetulan ada air untuk mandi dan berwudlu, hingga beliau sadar bahwa perintah tersebut untuk mensucikan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan keangkuhan dan kesombongan.

Lalu saat beliau keluar dari bersuci dan menghadap dalam keadaan faqir, dari arah gua itu muncul sosok yang tampak lanjut usia dengan pakaian yang sederhana, dan dengan songkok dari anyaman jerami Seraya berkata, “Marhaban Wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar, dst.. dengan menyebut nasab Syeikh Abul Hasan sampai ke Rasulullah saw.”.

Mendengar itu semua Syeikh Abul Hasan semakin takjub. Belum sempat mengeluarkan kata, Sang Quthub itu melanjutkan, “Wahai Ali, engkau datang kepadaku sebagai fakir baik dari segi ilmu maupun amalmu, maka engkau akan mengambil dariku semua kekayaan, dunia hingga akhirat”. Bahkan beliau melanjutkan, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebelum engkau datang ke sini, Rasulullah saw.  telah memberi tahu kepadaku segala hal tentang dirimu, serta akan kedatanganmu hari ini. Selain itu aku juga mendapatkan tugas dari beliau agar memberikan pendidikan dan bimbingan kepadamu. Oleh sebab itu ketahuilah bahwa kedatanganku kemari sengaja untuk menyambutmu…”. (lihat: al Quthb as Syahid Sidi Abdussalam bin Masyisy karya Imam Abdul Halim Mahmud: 16)

Begitulah sedikit gambaran tentang Sang ”Quthbul Aqthab” atau “Al Ghouts”, Maulay Abdussalam bin Masyisy. Beliau adalah Abdussalam bin Masyisy bin Malik bin Ali bin Harmalah bin Salam bin Mizwar bin Haidarah bin Muhammad bin Idris al-Akbar bin Abdullah al-Kamil bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sabth bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra putri Rasulullah saw.. Lahir pada tahun 559 H bertepatan dengan 1198 M. lahir pada tahun 559 H bertepatan dengan 1198 M dan wafat pada tahun 622 H (1261 M).

Semasa hidupnya beliau memiliki kesungguhan dan kemauan yang keras dalam menuntut ilmu serta menjaga awrad (baca’an-bacaan zikir dan doa) hingga sampai kepada jalan menuju makrifah kepada Allah swt.. Dalam bidang ilmu pengetahuan salah satunya beliau berguru pada Syeikh Ahmad yang di juluki “Aqtharaan”, dimakamkan di daerah Abraj dekat pintu Tazah. Dalam bidang tasawuf di antara para gurunya adalah Syeikh Abdurrahman bin Hasan al-’Aththar yang terkenal dengan “az-Ziyyaat”. Dari beliau Ibnu Masyisy belajar tentang ilmu mua’amalah (interaksi sosial) dengan masyarakat yang sumbernya berakhlak sesuai dengan akhlak baginda Rasulullah saw..

Meski tidak banyak meninggalkan karangan, namun salah satu warisan yang sangat penting dan berharga dari beliau adalah  teks “Shalawat Masyisyiah”, yaitu sebuah shalawat yang jika kata-katanya berbaur atau di ucapkan oleh ruh maka akan membuat pemilik ruh tersebut terasa melayang di udara dari keluhuran dan keindahan alam malakut. Shalawat yang memiliki banyak rahasia dan keutamaan serta mampu memberikan pancaran cahaya Ilahi bagi para pengamalnya.

Adalah merupakan anugrah bagi penulis ketika bisa menziarahi makam beliau ”Quthbul Aqthab”, Maulay Abdussalam bin Masyisy. Tepat pada hari selasa, 16 April 2013 penulis ikut dalam rombongan Abuya Syeikh Nuruddin Marbu al Banjari yang kebetulan sedang di Maroko dan berniatan ziarah ke makam tersebut.

Allahumma shalli ‘alaa man minhun syaqqatil asraar, wan falaqatil anwaar, wa fiihi irtaqatil haqaaiq, wa tanazallat ‘uluumu sayyidinaa aadama fa a’jazal khalaaiq, wa lahu tadhaa-alatil fuhuumu falam yudrikhu minnaa saabiqun wa laa laahiq, fariyaadhul malakuuti bizahri jamaalihi muuniqah, wahiyaadhul jabaruuti bifaidhi anwaarihi mutadafiqah, walaa syai-a illa wahuwa bihi manuuth, idz laulal waasithatu ladzahaba kamaa qiilal mausuuth, shalaatan taliiqu bika minka ilaihi kamaa huwa ahluh.

Allahumma innahu sirrukal jaami’ ad daallu ‘alaik, wahijaabukal a’zhamu al qaaimu laka baina yadaik. Allahumma alhiqnii binasabih, wa haqqiqnii bi hasabih, wa ‘arrifnii iyyahu ma’rifatan aslamu bihaa min mawaaridil jahli, wa akra’u bihaa min mawaaridil fadhli, wahmilnii ‘alaa sabiilihi ila hadhratik, hamlan mahfuufan binushratik. Waqdzif bii ‘alal baathili fa-admaghahu, wa zujja bii fii bihaaril ahadiyyah, wansyulnii min awhaalit tauhiid, wa aghriqnii fii ‘aini bahril wahdah hatta laa araa wa laa asma’a wa laa ajida wa laa uhissa illaa bihaa.

Waj’alil hijaabal a’zhama hayaata ruuhii, wa ruuhahu sirra haqiiqatii, wa haqiiqatahu jaami’a ‘awaalimi bitahqiiqil haqqil awwali Yaa awwalu Yaa aakhiru Yaa zhaahiru Yaa baathin, isma’ nidaa-ii bimaa sami’ta bihi nidaa-a ‘abdika Zakariyya, wanshurnii bika laka, wa ayyidnii bika laka, wajma’ bainii wa bainaka, wa hul baini wabaina ghairika.

Allah, Allah, Allah, innalladzii faradha ‘alaikal qur’aan laraadduka ilaa ma’aad..Rabbanaa aatinaa min ladunka rahmah, wahayyi’lanaa min amrinaa rasyadaa.

Innallaaha wamalaaikatahu yushalluuna ‘alan-nabiyy, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliima.

Wallahua’lam bisshawab.

Kenitra, 24 April 2013
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Selasa, 13 November 2012

Catatan Sepuluh November


Oleh: Ali Syahbana

Sepuluh November bagi segenap rakyat Indonesia merupakan momen yang bersejarah. Sebab pada angka tersebut, tepatnya 10 November 1945, rakyat Indonesia ‘pontang-panting’ berjibaku mengorbankan keluarga dan nyawa demi mempertahankan  kemerdekaan Indonesia tercinta.

Adalah manuver dahsyat tentara Inggris, dengan sekitar 30000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perangnya, yang mengharuskan mereka kembali bersinggungan dengan ‘kawan lama’ bernama perang. Dan Alhamdulillah-nya, berkah rahmat Tuhan YME, melalui tekad dan kesatuan serta ikhtiar rakyat Indonesia, tanpa terkecuali santri-santri dibawah komando kyai-kyai kaliber KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya dan juga tokoh muda kaliber Bung Tomo, Surabaya pun selamat dari jajahan Inggris laknatullah ‘alaihim. Kemudian pejuang yang gugur pada momen tersebut, apapun latar belakang dan status sosialnya, mendapat ‘label’ Pahlawan.

Setelah itu, dengan penetapan Hari Pahlawan pada angka sepuluh tersebut, lambat laun term pahlawan menjadi ‘penyakit’ tahunan yang seakan selalu menarik untuk digali maknanya, di ‘pas-pasi’ esensinya dengan konteks kekinian, dan lain sebagainya. Pertanyaannya, masih adakah pahlawan pasca generasi angkatan ‘Sepuluh November’ tersebut?

Kalau boleh ditarik benang merahnya, gelar pahlawan peristiwa 10 November lahir sebab rakyat ‘nekat’ mempertaruhkan nyawa, berani memperpendek nafas kehidupan, dan siap mati gasik, rela tulus ‘ngabdi’ tanpa pamrih demi satu tujuan mulia yaitu kesejahteraan bangsa Indonesia. Dari itu penulis pun setuju jika ada yang mengartikan pahlawan adalah seseorang yang berbakti kepada masyarakat, negara, bangsa dan atau umat manusia tanpa menyerah dalam mencapai cita-citanya yang mulia, sehingga rela berkorban demi tercapainya tujuan, dengan dilandasi oleh sikap tanpa pamrih pribadi. Bahkan jika definisi ini sudah menjadi ijma’ atau kesepakatan kolektif tentu sulit bagi kita untuk men-cap pahlawan terhadap siapapun.

Adapun pahlawan secara kamus bahasa kita ialah orang yang menonjol karna keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani. Maka orang yang berani membasmi virus korupsi secara kamus disebut pahlawan. Hakim yang tanpa pandang bulu membela kebenaran secara kamus juga disebut pahlawan. Pejabat yang gagah untuk tidak menindas rakyat lagi-lagi menurut kamus masuk kategori pahlawan.

Makna pahlawan jika boleh dipersempit lagi bisa berarti orang yang berjasa secara positif. Sehingga dari sini dipahami bahwa siapapun yang melakukan amaliah atau hal-hal positif masuk kategori pahlawan.  Kedua orang tua kita adalah pahlawan dengan jasa-jasa yang tak terkira. Kyai, ustadz atau guru juga pahlawan dengan ketulusan transfering anugrah ilmu yang diperolehnya. Yang ‘nyebrangi’ nenek-nenek di jalan raya, yang eksis menjaga kebersihan lingkungan, yang istiqamah menahan nafsu untuk ‘nguntit’ brangkas negara, dan sebagainya bisa dianggap pahlawan jika mengamalkan term makna sperti ini.

Namun, yang jauh lebih penting dan bahkan besar diharapkan dari semua teori tersebut adalah upaya tiap-tiap individu untuk mendongkrak jasa-jasa positif baik secara mikro maupun makro. Meneladani -sebagai manifestasi penghormatan dan penghargaan- amaliah hasanah pahlawan-pahlawan terdahulu. Dan bukan malah terkungkung dalam wacana kepahlawanan yang tak berujung. Wallahua’lam bisshawab.

* Tetouan, 12 November 2012.
* Pernah dimuat di: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,40761-lang,id-c,kolom-t,Catatan+Sepuluh+November-.phpx
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Kamis, 08 November 2012

Lunturnya 'Maqasidu ad Da'wah'


Bebarapa waktu yang lalu penulis mendapati salah satu teman mengirimkan info di laman facebook. Isinya menarik, yaitu perihal penyelewengan pemahaman oleh seorang bernama Mahrus Ali.

Singkatnya, sosok yang karya-karya 'gendheng' nya oleh golongan islam radikal diberi embel-embel  "Mantan Kyai NU" itu telah mendiskreditkan citra Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia, dengan fitnahnya. Bahkan bahkan bisa mengancam eksistensi Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menganut ideologi Pancasila dan berasaskan Undang-undang Dasar 1945.

Salah satu 'adegan' konyol dari sosok yang sebenarnya bukan mantan kiai NU, apalagi pernah menjadi anggota atau menjabat di NU adalah adanya aksi 'nyunati' atau memotong pemahaman yang ada dalam kitab I'anatuth Thalibin, kitab Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab Fathul Mu’in.

Disini penulis tidak ingin memperpanjang cerita. Bagi penulis meskipun fenomena tersebut sudah 'basi' bertauhun-tahun, namun tetap saja menarik untuk diperhatikan. Terlebih hingga kini masih banyak -bahkan menjamur- fenomena serupa yang membuat 'risih' ketentraman bangsa.

Dan kalau mengatasnamakan dakwah, sejatinya menurut hemat penulis tindakan tersebut jauh dari 'Maqasidu ad Da'wah' atau esensi dari dakwah yaitu mengajak manusia untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala.

'Maqasidu ad Da'wah' atau cita-cita mulia dari kegiatan dakwah ini bisa teraih apabila kaedah dasar (minimal) 'bil hikmah wal mau'idzah al hasanah' teraplikasikan dengan baik. Bil-hikmah bisa berarti upaya 'ngajak' dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan dengan cara yang mudah dan bijaksana. Atau dengan perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.

Sedang al mau'idzah al hasanah bisa berwujud nasihat, bimbingan, pendidikan atau pelajaran yang baik. Artinya dalam ber- mau'idzah  hasanah harus dengan kelembutan; tidak menjelek-jelekkan atau membongkar kesalahan. Sebab, kelemahlembutan dalam menasehati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar.

Resep ber-mau'idzah hasanah dengan kelembutan telah sukses dicontohkan nabi teladan kita, Muhammad saw., sebagaimana Al Qur'an menegaskan; "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu". (Ali Imran: 159).

Maka -lagi-lagi- jika ada model-model penyebar ajaran islam dengan cara sebagaimana gambaran diatas tentu jauh dari kata selaras dengan 'Maqasidu ad Da'wah'. Sebab, rumusan dasar yang sudah ditetapkan dalam Al Qur'an atau 'laku' kanjeng Nabi saw. yang pernah dicontohkan tidak tercermin sama sekali dalam tindakan tersebut diatas. Wallahua'lam bisshawab.

* Kenitra, 9 Nopember 2012
silakan lihat juga: http://agama.kompasiana.com/2010/12/16/membongkar-kebohongan-h-mahrus-ali-dan-rekayasa-busuk-wahabi/ 
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Jumat, 02 November 2012

Potret Menarik Cafe di Maroko


Secara mendasar, Cafe atau dalam 'lidah' Indonesia bisa diucap kafe biasanya diartikan tempat untuk menikmati secangkir minuman, kopi, teh, jus, dll. Kafe juga terkadang merupakan sumber inspirasi atau  tempat transaksi bisnis dan lobi-lobi.

Namun bagi kebanyakan orang di Indonesia, konotasi kafe identik dengan hal-hal yang berbau hura-hura, tempat hiburan kelas atas dengan sajian live music-nya atau tempat 'nongkrong' bagi kelas menengah ke atas. Sehingga bagi kalangan biasa-biasa saja, kafe seolah merupakan kawasan yang 'angker' untuk dijamah.

Kalau kita pernah mencicipi (meski melalui info-info dan liputan video) alam per-kafean beberapa negara Arab semisal Maroko, Tunis, Mesir dan lainnya,  boleh jadi akan lahir sebuah kesimpulan bahwa kafe di negara tersebut tak bedanya dengan warung-warung kopi (WarKop) dalam artian mampu dinikmati segala lapisan masyarakat.

Hal seperti itu juga terjadi di Maroko. Kafe di negara ini hampir menyentuh diberbagai daerah. Baik di jantung kota maupun pinggiran-pinggirannya. Baik ditempat obyek-obyek wisata ataupun tempat-tempat biasa. Bahkan banyak juga kafe yang berderet dipinggir-pinggir jalan hingga lebih dari satu kilo panjang barisannya.

Kafe di Maroko, selain mungkin setingan tempatnya tidak kalah menarik dengan kafe-kafe di Indonesia, sering difungsikan oleh masyarakatnya untuk 'nyantai' dan refresh. Kafe sering juga dibuat sebagai ajang transaksi bisnis, tempat belajar secara kelompok, bahkan sebagai sumber pencari referensi dengan fasilitas wifinya.

Yang menarik dan mungkin bikin 'ngangeni', kafe di Maroko selalu ramai jika ada pertandingan-pertandingan sepakbola. Dengan layar televise yang lebar, ditambah sound yang 'nangkring' disetiap sudutnya menjadikan masyarakat yang kebanyakan pecinta sepakbola betah menikmati jalannya pertandingan dengan 'cuma' modal secangkir kopi atau teh.

Terlebih jika ada partai-partai besar seperti 'el clasicco' (Madrid vs Barca), 'Derby Milano' (Inter vs Milan) atau partai-partai yang masuk babak knock out (system gugur) sampai final. Kafe menjadi penuh dan gemuruh. Nuansa kebersamaan seakan menenggelamkan kepenatan hidup yang kadang sumpek. Yel-yel sesekali hadir seolah menikmati pertandingan langsung di stadion aslinya.

Kafe di Maroko pada akhirnya bisa menjadi ajang 'kongkow' dengan bermacam motif dan kebutuhannya. Bisa sebagai wahana refreshing dengan pertandingan-pertandingan sepakbolanya bagi pecinta sepakbola. Bagi Pelajar bisa dijadikan ajang belajar bareng bahkan diskusi. Bisa juga untuk berbisnis bagi pebisnis. Untuk rapat bagi kalangan organisatoris, dan lain sebagainya dan lain seterusnya. Dengan tarif yang terjangkau bahkan murah, Kafe bagaimana kita memanfaatkan dan menikmatinya.

* Kenitra, 2 Nopember 2012
* Pernah dimuat di 
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,40608-lang,id-c,internasional-t,Warkop+di+Indonesia++Caf%C3%A9+di+Maroko-.phpx
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Senin, 22 Oktober 2012

Bulan Dzulhijah


Oleh: Ali syahbana

Bulan Dzulhijah merupakan bagian dari asyhurul fadilah (bulan-bulan keutamaan) dan asyhurul haram (bulan-bulan mulia). Dalam bulan ini banyak dari hamba-hamba Allah -yang diberi kemampuan- melakukan perjalanan untuk menunaikan ibadah haji, menyempurnakan rukun islam yang kelima, dan yang tidak kalah penting ta’abbudan lillah yaitu beribadah (berhaji) semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang (riya’), bukan disebabkan agal gelar haji melekat dinamanya dan bukan karena motif-motif lainnya.

Selain kewajiban berhaji menuju baitullah, dalam bulan ini dianjurkan juga bagi segenap umat islam untuk melakukan ibadah puasa. Baik puasa yang dilakukan mulai tanggal 1 Dzulhijah ataupun berpuasa hanya tanggal 9 Dzulhijah (satu hari sebelum ‘idul adha) yang terkenal dengan sebutan hari arafah.

Keutamaan Berpuasa di Bulan Dzulhijah

Dalam Riwayat Imam Muslim, salah satu periwayat yang bersama Imam Bukhari diakui keshahihan riwayatnya oleh para ulama, dari Abu Qatadah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. ditanya perihal berpuasa pada hari Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Beliau saw. lalu bersabda: "Puasa pada hari itu dapat menutupi dosa pada tahun yang lampau serta tahun yang akan datang." (lihat: Riyadus shalihin, Kitab al Fadhail)

Dilain tempat Imam Bukhari meriwayatkan tentang keutamaan bulan Dzulhijah, dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Tidak ada hari-hari yang mengerjakan amalan shalih pada hari-hari itu yang lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama Dzulhijah. Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, apakah juga tidak lebih dicintai oleh Allah meskipun jihad fi-sabilillah? Rasulullah saw. menjawab: "Meskipun berjihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan dirinya dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan membawa sesuatu apa pun dari yang tersebut - yakni setelah berjihad lalu mati syahid. (lihat juga: Riyadus shalihin, Kitab al Fadhail).

Dan juga sabda Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah r.a.:

“Tidak ada hari-hari yang didalamnya  melakukan amalan shalih yang lebih utama dan dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Jika berpuasa satu hari pada hari tersebut maka sama seperti berpuasa satu tahun. Jika ber-qiyamul lail (shalat malam) pada hari tersebut maka sama seperti ber-qiyamul lail pada lailatul qadar”.(HR. Tirmidzi dan Ibnu majah).

Segelintir riwayat diatas merupakan isyarat bahwa sepuluh hari di bulan Dzulhijah memiliki banyak keutamaan. Bagi mereka umat islam yang melakukan amalan sholeh di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijah, maka pahalanya lebih utama dari dari pada berjihad di jalan Allah saw..

Disamping itu, Berpuasa juga merupakan hal yang sangat dianjurkan pada bulan tersebut. Terlebih perupamaan yang mengatakan bahwa satu hari berpuasa pahalanya sama dengan berpuasa satu tahun. Serta berpuasa pada hari arafah bisa melebur dosa tahun yang telah lalu dan yang akan datang.

Imam Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Fathul Bari, penjelas dari kitab Sahih Imam Bukhari,  mengatakan bahwa  sebab diistimewakannya sepuluh hari Dzulhijah adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah pokok yaitu shalat, puasa, sedekah dan haji, dan hal itu tidak didapatkan pada hari-hari lain.“

Akhirnya, marilah kita manfaatkan kesempatan bulan Dzulhijah ini dengan meningkatkan amalan-amalan saleh. Dan jika kita tengok lebih jauh tentang keutamaan dibulan ini, bukan hanya amalan puasa saja yang dianjurkan dan disebutkan secara gamblang. Akan tetapi memperbanyak melakukan sholat (baik wajib maupun sunnah), banyak berzikir kepada Allah (tahlil, takbir, tahmid, atau bentuk dzikir lainnya), bersedekah, berqurban (menyembelih binatang) dan lain sebagainya pun merupakan hal yang dianjurkan untuk diamalkan.

Dari Ibnu Umar radliyallah ‘anhuma berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah swt. dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai-Nya selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid.“ (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir). Wallahua’lam bisshawab.

     
* Tulisan ini pernah dimuat di buletin 'Sayyidul Ayyam' PPI Maroko, 03 November 2010 M/25 Zulqa’dah 1431 H..
* Pernah dimuat juga di http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,40417-lang,id-c,kolom-t,Bulan+Dzulhijah-.phpx


»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Rabu, 26 September 2012

Legowo Dengan Kompleksitas Indonesia


Oleh: Ali Syahbana

Entah seperti gatel atawa greget, rasanya kurang nikmat kalau gendhu-gendu rasa (obrolan) dengan -sebut saja- ustadz Sidi* Sa'id as Seggaf yang penulis alami dengan beberapa teman semalam (25/09/2012) tidak "digaruk" hingga menjadi sebuah catatan yang manfaat atau tidaknya menjadi urusan-Nya. Yah urusan-Nya, sebagaimana hak memberi hidayah bukan urusan seorang Muhammad tapi mutlak hak perogratif-Nya. Ibaratnya meskipun jungkir balik, pontang panting, ngotot-ngotot apalagi sampai maksa-maksa untuk ber-islam ala "dia", kalau Dia tidak "kun" maka "fayakun" pun belum bisa nyusul. Atau meminjam redaksi Qur'annya kurang lebih secara bebas seperti ini, "udah lah, kamu khotbah khotbah aja, kalau mau ceramah ya ceramah aja, nulis nulis aja, dapet hidayah apa engga bukan urusan dan hakmu tapi itu mutlak urusan, bagian dan hak-Ku."

Sebelum masuk lebih dalam, ada baiknya kalau penulis kenalkan lebih dulu sosok Sa'id as Seggaf. Dia bukanlah salah satu ulama besar Maroko dan bukan juga keturunan seorang raja. Dia hanya warga biasa Maroko yang kebetulan iseng penulis jadikan "korban" dalam tulisan ini. Dia -seperti ceritanya- pernah mengenyam pendidikan SMA sampai S1 di Damaskus, Syiria. Lalu hijrah untuk S2 di Cairo, Mesir sebelum akhirnya melanjutkan S3 di Tetouan, Maroko, tempat kelahirannya sendiri. Dan mungkin yang lebih menarik, dia memiliki istri warga negara Indonesia asli Jawa Barat, salah satu hasil saat dia belajar di Cairo, Mesir.

Sidi Sa'id (bersama istri dan anaknya) malam itu kebetulan mampir disela-sela perjalanannya menghadiri Resepsi Diplomatik HUT RI tahun ini di Wisma Duta, Rabat. Setelah beberapa menit diawali mujamalah (obrolan 'basa basi' untuk perkenalan dll), dalam obrolan semalam beliau banyak memaparkan kekagumannya terhadap bangsa Indonesia. Hanya saja ketika bla bla bla menceritakan indahnya Indonesia dan saat obrolan mulai memanas, beliau menyayangkan keadaan ormas-ormas islam yang  suka "ribet" ngurusi hal-hal yang furu'iyyah (permasalahan-permasalahan kecil yang kurang mendasar). Masalah-masalah seperti shalat qunutan atau tidak, selesai shalat salaman atau tidak, dan lain sebagainya baginya agar dibiarkan menjadi laku (amaliah) tiap-tiap individu, yang penting tidak menyalahi konstitusi (ketetapan) syariat islam.

Justru -menurutnya- yang lebih penting adalah bagaimana ormas-ormas seperti NU, Muhamadiyah, Persis dan lainnya bersatu (berkerja sama), ikut andil gotong royong bagaimana membangun bangsa Indonesia dari berbagai sektor. Sebab kalau hanya bagaimana menjadikan NU atau Muhammadiya atau Persis semua rakyat Indonesia adalah merupakan hal yang mustahil, bahkan menyalahi sunatullah (ketetapan Allah). Bukankah Allah sendiri telah menciptakan semuanya dengan bermacam perbedaaan?? Agar dengan perbedaan tersebut bisa saling mengenal, co-operatif, bekerjasama atau saling bantu-membantu satu sama lain. Dan bukankah Allah Yang Maha Kuasa dalam menyatukan, meng-islamkan, menyelaraskan umat manusia tidak menghendaki untuk tidak berbeda-beda??

Yang lebih ironis lanjutnya, saat beliau bergaul dengan berbagai komunitas Indonesia di Mesir seolah ada pendidikan ta'assubiyah (fanatisme) yang "dikunyah" secara tidak langsung oleh mahasiswa Indonesia disana. Yang dari ormas A melulu berusaha meng-A-kan sesuatu dalam segala hal, baik materi maupun non-materi. Yang dari kelompok B juga begitu, yang dari partai C juga begitu dan seterusnya dan lain sebagainya.

Setelah semakin lebar obrolan, penulis yang tau beliau dari tetouan pun iseng menanyakan satu hal yang penulis sendiri kesengsem untuk mengorek informasi lebih jauh akan pertanyaan tersebut. Dengan mantep penulis bertanya, "Saya dapat info kalo antara kota tetouan dan chefchouen ada daerah bernama Jabal el 'Allam, disitu ada pesarehan Simbah Kyai Abdussalam ibn Basyisy, guru dari Simbah Kyai Abu Hasan as Syadzili al Misri?" Beliau menjawab, "Betul. tapi jalan untuk kesana bengkak bengkok sebab berada di perbukitan."

Dengan semangat beliau melanjutkan jawabannya, "Tapi yang saya sayangkan ialah banyak orang jadi "salah kaprah". Saya setuju untuk memuliakan ulama, menziarahinya dan mengenali lebih dekat bagaimana kiprah dan teladannya. Tapi kebanyakan orang awam menjadikan mereka sosok yang suci, meminta atau memohon pada mereka (ulama yang telah wafat) saat berziarah. Ini yang "salah kaprah" dan perlu kita luruskan. Dan hal ini juga banyak terjadi, tidak hanya di Maroko, tapi juga di Indonesia saat saya berziarah ke sana kemari."

Sebetulnya antara setuju dan tidak setuju dengan ulasan beliau, penulis hanya coba menggaris bawahi bahwa Indonesia yang kompleks dan majemuk tentu butuh aksi semua pihak untuk menjadikannya indah dan menawan. Tidak hanya sama-sama membangun, tapi juga sama-sama menahan. Menahan untuk tidak menindas. Menahan untuk tidak meng-kebiri titipan rakyat. Menahan untuk tidak korup, saling sikut, dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Chukron bizzaff sidi sa'id. Hakadza -'alal aqal- Indunisy dyalna. (Terima kasih banyak Tuan Said. Seperi inilah -sedikitnya- Indonesia kami). Wallahua'lam.

Kenitra, 26 September 2012

*sidi
adalah ungkapan lokal orang maroko yang berarti tuan atau "pak".
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Minggu, 23 September 2012

"Si Khusus" Yang Tak Terurus


Oleh: Ali Syahbana

Menurut pemahaman kebanyakan orang, kata "khusus" identik dengan hal-hal yang diluar kebiasaan atau kelumrahan. "khusus" bisa juga berarti sesuatu yang diistimewakan, disakralkan, di-menjadi pentingkan. Boleh juga dikatakan "khusus" adalah pembeda antar satu dengan lainnya. Seperti contoh "meja makan ini khusus pejabat", maka jelas bahwa orang yang tidak berlabel pejabat tidak berhak menempati meja tersebut. Meja yang awalnya biasa menjadi istimewa ketika di istimewakan, menjadi sakral saat disakralkan.

Dalam praktek ibadah haji, ada jamaah yang berlabel reguler, yaitu jamaah biasa yang tergabung dalam kloter-kloter dari berbagai penjuru Indonesia. Jamaah yang untuk mertamu ke tanah suci harus nyicil bayar ONH (Ongkos Naik Haji)nya dan setia antri sampai lebih dari lima tahun lamanya. Ada juga jamaah haji berstempel khusus yang bisa sowan ke baitullah seketika waktu tanpa harus menunggu bertahun-tahun seperti jamaah reguler (tidak khusus).

Umumya, jamaah haji "khusus" mendapat perlakuan yang khusus dan istimewa saat di tanah suci. Saat tiba di bandara Arab Saudi saja sudah disambut tim yang memang khusus menjadi pengurus mereka. Tempat tinggal mereka dihotel berkelas yang sangat dekat dengan masjidil haram dan nabawi. Saat wuquf di Arafah (begitu juga mabit di Mina) tenda istirahat mereka minimal nyrempet-nyrempet dengan kondisi tenda pejabat negara. Jika tenda para pejabat bermuatan kasur empuk, bantal dan ruang tamu kecil-kecilan, maka mereka yang berlabel haji "khusus" hanya tidak memiliki ruang tamu saja dalam tendanya. Berbeda dengan haji biasa yang hanya berisi gelaran karpet sederhana yang menempel diatas tanah yang kadang juga tidak rata sebab batu atau kerikil yang mengganjalnya.

Akan tetapi, gambaran diatas menjadi ironis saat penulis mendapatkan kesempatan kali kedua menjadi petugas Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) tahun 2011. Penulis yang kebagian tugas sebagai Pengawas Ibadah Haji Khusus (PIHK) Daerah Kerja (Daker) Jeddah sering mendapati perlakuan yang tidak khusus -bahkan sangat memprihatinkan- yang didapati jamaah haji berlabel "khusus". Ada dari mereka yang harus terlantar berjam-jam bahkan berhari-hari di bandara sebab ketidakjelasan atau ketidak-bertanggung jawaban tim pengurusnya. Sampai tidak jarang jamaah yang saking kecewa dan sakit hatinya berucap, "kalo tau begini turunan saya tidak akan saya hajikan lewan travel haji khusus!!".

Yang sepertinya menarik dan lebih parah lagi, masih ada saja travel-travel "gaib" yaitu travel non-kuota atau yang tidak terdaftar resmi di Depag, tidak mendapat nomor porsi Haji, serta tidak mendapatkan DAPIH (Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji). Travel seperti ini biasanya hanya memikirkan keuntungan materi semata, tanpa mempedulikan nasib jamaah haji kedepannya yang juga sama-sama berbendera Indonesia. Penulis sendiri tidak paham mengapa travel-travel model tersebut bisa lolos hingga sampai Arab Saudi. Entah apakah ada oknum-oknum dagelan yang bermain dibelakang mereka??.

Dengan iming-iming menggiurkan menjadi haji "khusus", jamaah yang awalnya ingin nyaman dan cepat melaksanakan ibadah haji malah harus pontang-panting memikirkan nasib mereka baik saat, selama hingga kepulangan dari tanah suci. Seolah ke"khusus"an mereka menjadi tidak lebih istimewa dari jamaah biasa (reguler) yang -menurut penulis- lebih terjamin pelayanannya.

Bagaimana tidak terjamin, lha wong baru keluar gate (pintu keluar dan masuk) bandara saja mereka sudah dilayani dengan baik oleh para petugas. Petugas urusan koper merapikan dan mengamankan koper mereka. Petugas urusan per-dokumen-an mengurus dokumen-dokumen mereka (paspor, dll). Petugas transportasi menyiapkan transportasi mereka kapanpun, dimanapun dan kemanapun mereka bergerak. Petugas dipemondokan menyambut dan melayani mereka. Yang bingung ditunjukkan, yang tersesat diantarkan, dlsb, dlsb.

Dan lagi-lagi berbeda dengan yang "khusus", terlebih dari travel non-kouta, dengan pengurus "khusus" yang sedikit dan terbatas menjadikan mereka yang berlabel jamaah haji khusus harus cerdas dan kreatif sendiri saat pergi-pergi agar jangan sampai tersesat. Sebab jika tidak demikian, menjadi fatal bagi mereka saat tersesat. Petugas PPIH pun sulit mengenali identitas (nama travel, pemondokan, ketua rombongan, dll) mereka sehingga harus berhari-hari untuk sekedar mengembalikan mereka ke tempat (pemondokan) semula. Hal seperti ini pernah penulis rasakan saat mendapat kesempatan menjadi petugas PPIH bagian Informasi dan Penerangan di Mabes (Markas Besar) Daker Mekkah tahun 2009 silam.

Pada akhirnya, menurut hemat penulis bagi mereka yang awam akan kondisi per-hajian Indonesia sepertinya lebih baik berhaji secara reguler meski harus setia menunggu beberapa tahun lamanya. Minimal kalau tidak sampai umur, niatan tulus untuk sowan dan menyempurnakan rukun islam sudah bisa menjadi cacatan amal baik bagi mereka. Timbang harus ngoyo ingin cepat-cepat berhaji dengan melalui jalur "khusus" namun malah tidak teruurus.

Dan hemat penulis juga, berhaji khusus lebih pas bagi mereka yang memang siap baik secara pemahaman, pengetahuan maupun pengalaman terbang. Atau bagi mereka yang melalui travel haji khusus yang memang terpercaya, teruji dan bertanggung jawab. Berhaji khusus bahkan bisa menjadi tidak lebih baik, pas dan etis jika motif (niatan) berhajinya malah melenceng dari semestinya. Adakah yang modelnya seperti itu?? Wallahua'lam bis shawab.

*Griya Kenitra, 23 September 2012
»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Kamis, 09 Agustus 2012

Sakralitas "Lailatul Qadar"


Oleh: Ali Syahbana

Saat bulan suci Ramadhan tiba, termasuk hal yang paling laris dijadikan bahan pembicaraan adalah tentang "Lailatul Qadar". Baik media cetak maupun elektronik, entah oleh para penceramah atau ustadz yang professional maupun amatiran, ditiap-tiap mushalla atau masjid, ataupun dalam kajian diskusi keagamaan melulu menempatkan Lailatul Qadar menjadi bahasan menarik untuk diketengahkan, untuk disampaikan dan yang lebih penting untuk diamalkan tentunya.

Lailatul Qadar atau dalam kebahasaan kita berarti malam ketetapan adalah momen dimana Al Qaadir (Allah swt yang maha menetapkan) menetapkan perjalanan hidup manusia dalam jenjang satu tahun kedepan (baca: QS. Ad Dukhan ayat 3-5). Dikatakan juga bahwa siapa saja manusia yang melakukan amalan positif dalam malam tersebut maka pahala dan ganjarannya lebih baik daripada ia beramal 1.000 bulan, setara 83 tahun 4 bulan.

Lailatul Qadar kalau boleh dikata merupakan malam yang kramat dan sangat istimewa. Bahkan ada dari ulama yang melakukan teka teki dalam menentukan malam tersebut. Mereka berpendapat jika awal Ramadhan hari Ahad dan Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 29 ramadhan. Jika hari Senin maka malam 21 Ramadhan adalah Lailatul Qadar-nya. Jika hari Selasa atau Jum'at maka malam 27 Ramadhan. Jika hari Kamis maka malam 25 Ramadhan. Jika hari Sabtu maka Lailatul Qadar-nya malam 23 Ramadhan.

Saking sakralnya sepertinya, ada juga yang mengatakan, "jika awal puasa hari Jum'at maka Lailatul Qadar jatuh dimalam 29 Ramadhan. Jika awal puasa hari Sabtu maka malam 21 Ramadhan. Jika hari Ahad maka malam 27 Ramadhan. Jika hari Senin maka malam 19 Ramadhan. Jika hari Selasa maka malam 25 Ramadhan.. Jika hari Rabu maka malam 17 Ramadhan.

Lailatul Qadar laksana misteri yang patut untuk dicari dan didapati. Ia tidak tetap atau berubah-ubah dalam tanggal jatuhnya. Dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan. Dikatakan juga bahwa ia terjadi pada malam-malam ganjil, yaitu 21,23,25,27, dan 29.

Imam Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (lihat: Fathul Bari, 4/262-266).

Lailatul Qadar merupakan malam yang dahsyat dan penuh keutamaan. Untuk mendapatinya, tidak cukup hanya sekedar berjudi melakukan ibadah total hanya pada malam ke 21 saja atau malam 27. Namun, setelah jiwa kita ajeg bermesraan denga Allah swt di 20 hari puasa pertama, sepuluh hari terakhir ini harus betul-betul dimanfaatkan secara efektif untuk melakukan ibadah baik personal maupun sosial.

Jika Kanjeng Nabi saw sendiri selaku sosok teladan umatnya, sebagaimana riwayat mengatakan, saat memasuki sepuluh yang akhir bulan Ramadhan, mengencangkan ikat pinggangnya untuk menghidupkan malamnya dengan ibadah secara vertikal bersama keluarganya. Tentunya umat yang mengaku pengikut beliau labih berhk untuk –minimal- mencontoh teladan beliau dalam menghidupkan "'Asyra al awakhir" sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Selamat mencegat sakralitas dan keberkahan Lailatul Qadar. Wallahua'lam.

Kenitra, 9 Agustus 2012 / 20 Ramadhan 1433 H

* Tulisan ini pernah dimuat di 
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,39264-lang,id-c,kolom-t,Sakralitas++Lailatul+Qadar+-.phpx

»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...

Minggu, 05 Agustus 2012

Al Qur'an, Kitab Suci Yang Terkhianati


Oleh: Ali Syahbana*

Sebelum menyelami lebih jauh pokok permasalahan, pertama penulis maklum jika ada sebagian pembaca yang menganggap ekstrim judul diatas. Sebagaimana penulis juga legowo saat ada dari pembaca  yang tidak langsung ambil kesimpulan tentang judul tersebut, namun terlebih dulu melakukan penelitian dengan pembacaan menyeluruh. Sebab bagi penulis pembaca adalah manusia-manusia yang bebas untuk menilai dan berpendapat.

Jika kita bertanya tentang al Qur'an, mayoritas umat muslim, terlebih  yang pernah mengenyam pendidikan islam, akan menjawab bahwa "Al-Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"

Al Qur'an adalah kitab yang istimewa. Bagaimana tidak, Al Qur'an diturunkan di bulan mulia nan istimewa, yaitu Ramadhan. Juga salah satu keistimewaan Al Quran adalah, sebagaimana riwayat Imam At Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al Quran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku (Rasulullah saw.) tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf".

Saking istimewanya, meminjam ungkapan Simbah Kyai Mustofa Bisri dalam salah satu tulisannya, Al Quran dibaca tanpa mengerti artinya pun mendatangkan pahala. Mereka yang membacanya dengan lancar dijanjikan akan bersama-sama para malaikat yang mulia dan mereka yang membacanya gradul-gradul, tidak lancar akan diganjar dobel. Demikian menurut hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari sayyidah A’isyah r.a.

Al Qur'an adalah kitab suci agama Islam yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia, pedoman dalam menjalani kehidupan yang pemahamannya diambil dari apa yang telah disampaikan ulama-ulama terdahulu merujuk ajaran Kanjeng Nabi shallallhu'alaihi wasallama.

Dalam posisinya sebagai pedoman dan pentunjuk, dalam hal ibadah Al Qur'an banyak menjelaskan akan kewajiban seorang hamba untuk tunduk dan mengabdi kepada Tuhannya. Ketundukan ini tertuang dalam kewajiban sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan ibadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya.

Dalam hal toto kromo, Al Qur'an juga mengisyaratkan bagaimana potret kemuliaan akhlak Rasulullah saw, kelembutan sikapnya dan keramahan perangainya yang sudah barang tentu harus dijadikan teladan bagi mereka yang mengaku umat dan pengikut beliau.

Lebih jauh lagi, Al Qur'an juga memaparkan bagaimana manusia berlaku baik terhadap kedua orang tuanya, kerabatnya dan orang-orang disekitarnya. Al Qur'an melarang penindasan, ketidak-adilan, keserakahan dan segala bentuk kezaliman. Al Qur'an tidak menghendaki kemunafikan, perberbuatan keji, pengingkaran akan janji-janji maupun tindak kekerasan yang menjadikan merugi.

Al Qur'an, lagi-lagi dengan  pemahaman yang sesuai tentunya, menjadi terhormat jika ia benar-benar mampu menjadi pedoman hidup kaum muslimin. Al Qur'an tidak hanya dibaca dan dihafal, tapi jauh lebih penting bagaimana ia bisa diamalkan. Dengan begitu cita-cita hudan linnas-nya Al Qur'an menjadi terealisasikan.

Namun menjadi ironis jika umat yang mengaku berpedoman terhadap Al Qur'an ternyata tindak tanduk atau perilakunya jauh dari nilai-nilai agung yang diajarkan Al Qur'an. Melupakan kewajiban sebagai hamba telah menjadi kebiasaannya. Menindas, berlaku tidak adil, serakah ataupun merampas hak-hak kaum lemah menjadi amalan yang melekat dalam dirinya. Bersikap kasar, rajin mencela dan mecaci-maki, memfitnah, berprasangka buruk, iri, dengki dan ingkar janji jadi santapan sehari-hari. Dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Jika kenyataannya demikian, tidakkah kita lebih pantas disebut, dengan bahasa ekstrimnya, sebagai bagian dari umat yang telah mengkhianati nilai-nilai kitab suci Al Qur'an?? Terlebih jika tidak adanya usaha-usaha perbaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengamalkan rumusan-rumusan yang tertuang dalam ajaran Al Qur'an itu sendiri. Maka dari itu, melalui momen dan semangat "Nuzulul Qur'an" marilah kita berusaha untuk tidak sekedar membaca dan sibuk menghafalkan Al Qur'an, tapi juga mencoba istiqamah mengamalkan kandungan-kandungan mulia yang ada dalam Al Qur'an. Dengan begitu semoga Al Qur'an bisa menjadi syafaat dalam kesejahteraan kehidupan di dunia maupun akherat kelak.

"Allahummarhamna bil Qur'an, waj’alhu lana imaaman wa nuuran wa hudan wa rahmah. Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina wa ’allimna minhu maa jahiilna, warzuqna tilaawatahu aana al laili wa athrofannahar, waj’alhu lana hujjatan Yaaa rabbal ‘alamiin", (Ya Allah, kasih sayangilah kami dengan sebab Al Quran, dan jadikanlah Al Quran sebagai pemimpin, sebagai cahaya, sebagai petunjuk dan sebagai rahmat bagi kami. Ya Allah ingatkanlah kami dari apa-apa yang kami lupa dalam Al Quran yang telah Kau jelaskan dan ajarilah kami terhadap apa-apa yang kami belum ketahui dalam Al Qur'an, dan karuniakanlah kami untuk selalu sempat membaca AlQuran pada malam dan siang hari, dan jadikanlah Al Quran sebagai hujjah bagi kami Wahai Dzat yang menguasai alam semesta). Wallahua'lam bis shawab.


* Santri di Universitas Ibn Tofail Kenitra, Maroko
   Kenitra, 04 Agustus 2012/15 Ramadhan 1433 H

»»  Bismillah Ku Lanjut Baca...