Secara mendasar, Cafe atau
dalam 'lidah' Indonesia bisa diucap kafe biasanya diartikan tempat untuk
menikmati secangkir minuman, kopi, teh, jus, dll. Kafe juga terkadang merupakan
sumber inspirasi atau tempat transaksi
bisnis dan lobi-lobi.
Namun bagi kebanyakan
orang di Indonesia, konotasi kafe identik dengan hal-hal yang berbau hura-hura,
tempat hiburan kelas atas dengan sajian live music-nya atau tempat 'nongkrong'
bagi kelas menengah ke atas. Sehingga bagi kalangan biasa-biasa saja, kafe
seolah merupakan kawasan yang 'angker' untuk dijamah.
Kalau kita pernah
mencicipi (meski melalui info-info dan liputan video) alam per-kafean beberapa
negara Arab semisal Maroko, Tunis, Mesir dan lainnya, boleh jadi akan lahir sebuah kesimpulan bahwa
kafe di negara tersebut tak bedanya dengan warung-warung kopi (WarKop) dalam
artian mampu dinikmati segala lapisan masyarakat.
Hal seperti itu juga
terjadi di Maroko. Kafe di negara ini hampir menyentuh diberbagai daerah. Baik
di jantung kota maupun pinggiran-pinggirannya. Baik ditempat obyek-obyek wisata
ataupun tempat-tempat biasa. Bahkan banyak juga kafe yang berderet
dipinggir-pinggir jalan hingga lebih dari satu kilo panjang barisannya.
Kafe di Maroko, selain mungkin
setingan tempatnya tidak kalah menarik dengan kafe-kafe di Indonesia, sering
difungsikan oleh masyarakatnya untuk 'nyantai' dan refresh. Kafe sering juga
dibuat sebagai ajang transaksi bisnis, tempat belajar secara kelompok, bahkan
sebagai sumber pencari referensi dengan fasilitas wifinya.
Yang menarik dan mungkin
bikin 'ngangeni', kafe di Maroko selalu ramai jika ada pertandingan-pertandingan
sepakbola. Dengan layar televise yang lebar, ditambah sound yang 'nangkring' disetiap
sudutnya menjadikan masyarakat yang kebanyakan pecinta sepakbola betah
menikmati jalannya pertandingan dengan 'cuma' modal secangkir kopi atau teh.
Terlebih jika ada
partai-partai besar seperti 'el clasicco' (Madrid vs Barca), 'Derby Milano' (Inter
vs Milan) atau partai-partai yang masuk babak knock out (system gugur) sampai final.
Kafe menjadi penuh dan gemuruh. Nuansa kebersamaan seakan menenggelamkan
kepenatan hidup yang kadang sumpek. Yel-yel sesekali hadir seolah
menikmati pertandingan langsung di stadion aslinya.
Kafe di Maroko pada
akhirnya bisa menjadi ajang 'kongkow' dengan bermacam motif dan kebutuhannya. Bisa
sebagai wahana refreshing dengan pertandingan-pertandingan sepakbolanya
bagi pecinta sepakbola. Bagi Pelajar bisa dijadikan ajang belajar bareng bahkan
diskusi. Bisa juga untuk berbisnis bagi pebisnis. Untuk rapat bagi kalangan
organisatoris, dan lain sebagainya dan lain seterusnya. Dengan tarif yang
terjangkau bahkan murah, Kafe bagaimana kita memanfaatkan dan menikmatinya.
* Kenitra, 2 Nopember 2012
* Pernah dimuat di http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,40608-lang,id-c,internasional-t,Warkop+di+Indonesia++Caf%C3%A9+di+Maroko-.phpx
* Kenitra, 2 Nopember 2012
* Pernah dimuat di

Tidak ada komentar:
Posting Komentar