Rabu, 26 September 2012

Legowo Dengan Kompleksitas Indonesia


Oleh: Ali Syahbana

Entah seperti gatel atawa greget, rasanya kurang nikmat kalau gendhu-gendu rasa (obrolan) dengan -sebut saja- ustadz Sidi* Sa'id as Seggaf yang penulis alami dengan beberapa teman semalam (25/09/2012) tidak "digaruk" hingga menjadi sebuah catatan yang manfaat atau tidaknya menjadi urusan-Nya. Yah urusan-Nya, sebagaimana hak memberi hidayah bukan urusan seorang Muhammad tapi mutlak hak perogratif-Nya. Ibaratnya meskipun jungkir balik, pontang panting, ngotot-ngotot apalagi sampai maksa-maksa untuk ber-islam ala "dia", kalau Dia tidak "kun" maka "fayakun" pun belum bisa nyusul. Atau meminjam redaksi Qur'annya kurang lebih secara bebas seperti ini, "udah lah, kamu khotbah khotbah aja, kalau mau ceramah ya ceramah aja, nulis nulis aja, dapet hidayah apa engga bukan urusan dan hakmu tapi itu mutlak urusan, bagian dan hak-Ku."

Sebelum masuk lebih dalam, ada baiknya kalau penulis kenalkan lebih dulu sosok Sa'id as Seggaf. Dia bukanlah salah satu ulama besar Maroko dan bukan juga keturunan seorang raja. Dia hanya warga biasa Maroko yang kebetulan iseng penulis jadikan "korban" dalam tulisan ini. Dia -seperti ceritanya- pernah mengenyam pendidikan SMA sampai S1 di Damaskus, Syiria. Lalu hijrah untuk S2 di Cairo, Mesir sebelum akhirnya melanjutkan S3 di Tetouan, Maroko, tempat kelahirannya sendiri. Dan mungkin yang lebih menarik, dia memiliki istri warga negara Indonesia asli Jawa Barat, salah satu hasil saat dia belajar di Cairo, Mesir.

Sidi Sa'id (bersama istri dan anaknya) malam itu kebetulan mampir disela-sela perjalanannya menghadiri Resepsi Diplomatik HUT RI tahun ini di Wisma Duta, Rabat. Setelah beberapa menit diawali mujamalah (obrolan 'basa basi' untuk perkenalan dll), dalam obrolan semalam beliau banyak memaparkan kekagumannya terhadap bangsa Indonesia. Hanya saja ketika bla bla bla menceritakan indahnya Indonesia dan saat obrolan mulai memanas, beliau menyayangkan keadaan ormas-ormas islam yang  suka "ribet" ngurusi hal-hal yang furu'iyyah (permasalahan-permasalahan kecil yang kurang mendasar). Masalah-masalah seperti shalat qunutan atau tidak, selesai shalat salaman atau tidak, dan lain sebagainya baginya agar dibiarkan menjadi laku (amaliah) tiap-tiap individu, yang penting tidak menyalahi konstitusi (ketetapan) syariat islam.

Justru -menurutnya- yang lebih penting adalah bagaimana ormas-ormas seperti NU, Muhamadiyah, Persis dan lainnya bersatu (berkerja sama), ikut andil gotong royong bagaimana membangun bangsa Indonesia dari berbagai sektor. Sebab kalau hanya bagaimana menjadikan NU atau Muhammadiya atau Persis semua rakyat Indonesia adalah merupakan hal yang mustahil, bahkan menyalahi sunatullah (ketetapan Allah). Bukankah Allah sendiri telah menciptakan semuanya dengan bermacam perbedaaan?? Agar dengan perbedaan tersebut bisa saling mengenal, co-operatif, bekerjasama atau saling bantu-membantu satu sama lain. Dan bukankah Allah Yang Maha Kuasa dalam menyatukan, meng-islamkan, menyelaraskan umat manusia tidak menghendaki untuk tidak berbeda-beda??

Yang lebih ironis lanjutnya, saat beliau bergaul dengan berbagai komunitas Indonesia di Mesir seolah ada pendidikan ta'assubiyah (fanatisme) yang "dikunyah" secara tidak langsung oleh mahasiswa Indonesia disana. Yang dari ormas A melulu berusaha meng-A-kan sesuatu dalam segala hal, baik materi maupun non-materi. Yang dari kelompok B juga begitu, yang dari partai C juga begitu dan seterusnya dan lain sebagainya.

Setelah semakin lebar obrolan, penulis yang tau beliau dari tetouan pun iseng menanyakan satu hal yang penulis sendiri kesengsem untuk mengorek informasi lebih jauh akan pertanyaan tersebut. Dengan mantep penulis bertanya, "Saya dapat info kalo antara kota tetouan dan chefchouen ada daerah bernama Jabal el 'Allam, disitu ada pesarehan Simbah Kyai Abdussalam ibn Basyisy, guru dari Simbah Kyai Abu Hasan as Syadzili al Misri?" Beliau menjawab, "Betul. tapi jalan untuk kesana bengkak bengkok sebab berada di perbukitan."

Dengan semangat beliau melanjutkan jawabannya, "Tapi yang saya sayangkan ialah banyak orang jadi "salah kaprah". Saya setuju untuk memuliakan ulama, menziarahinya dan mengenali lebih dekat bagaimana kiprah dan teladannya. Tapi kebanyakan orang awam menjadikan mereka sosok yang suci, meminta atau memohon pada mereka (ulama yang telah wafat) saat berziarah. Ini yang "salah kaprah" dan perlu kita luruskan. Dan hal ini juga banyak terjadi, tidak hanya di Maroko, tapi juga di Indonesia saat saya berziarah ke sana kemari."

Sebetulnya antara setuju dan tidak setuju dengan ulasan beliau, penulis hanya coba menggaris bawahi bahwa Indonesia yang kompleks dan majemuk tentu butuh aksi semua pihak untuk menjadikannya indah dan menawan. Tidak hanya sama-sama membangun, tapi juga sama-sama menahan. Menahan untuk tidak menindas. Menahan untuk tidak meng-kebiri titipan rakyat. Menahan untuk tidak korup, saling sikut, dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Chukron bizzaff sidi sa'id. Hakadza -'alal aqal- Indunisy dyalna. (Terima kasih banyak Tuan Said. Seperi inilah -sedikitnya- Indonesia kami). Wallahua'lam.

Kenitra, 26 September 2012

*sidi
adalah ungkapan lokal orang maroko yang berarti tuan atau "pak".

Tidak ada komentar: