Bebarapa waktu yang lalu penulis mendapati salah satu teman mengirimkan
info di laman facebook. Isinya menarik, yaitu perihal penyelewengan pemahaman
oleh seorang bernama Mahrus Ali.
Singkatnya, sosok yang karya-karya 'gendheng' nya oleh golongan islam
radikal diberi embel-embel "Mantan Kyai NU" itu telah
mendiskreditkan citra Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi islam terbesar di
Indonesia, dengan fitnahnya. Bahkan bahkan bisa mengancam eksistensi Indonesia
sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menganut ideologi
Pancasila dan berasaskan Undang-undang Dasar 1945.
Salah satu 'adegan' konyol dari sosok yang sebenarnya bukan mantan kiai
NU, apalagi pernah menjadi anggota atau menjabat di NU adalah adanya aksi
'nyunati' atau memotong pemahaman yang ada dalam kitab I'anatuth Thalibin, kitab
Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad
Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab Fathul Mu’in.
Disini penulis tidak ingin memperpanjang cerita. Bagi penulis meskipun
fenomena tersebut sudah 'basi' bertauhun-tahun, namun tetap saja menarik untuk
diperhatikan. Terlebih hingga kini masih banyak -bahkan menjamur- fenomena
serupa yang membuat 'risih' ketentraman bangsa.
Dan kalau mengatasnamakan dakwah, sejatinya menurut hemat penulis tindakan
tersebut jauh dari 'Maqasidu ad Da'wah' atau esensi dari dakwah yaitu mengajak manusia
untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala.
'Maqasidu ad Da'wah' atau cita-cita mulia dari kegiatan dakwah ini bisa
teraih apabila kaedah dasar (minimal) 'bil hikmah wal mau'idzah al hasanah'
teraplikasikan dengan baik. Bil-hikmah bisa berarti upaya 'ngajak'
dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan dengan cara yang mudah dan
bijaksana. Atau dengan perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil
yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.
Sedang al mau'idzah al hasanah bisa berwujud nasihat, bimbingan,
pendidikan atau pelajaran yang baik. Artinya dalam ber- mau'idzah hasanah harus dengan kelembutan; tidak
menjelek-jelekkan atau membongkar kesalahan. Sebab, kelemahlembutan dalam
menasehati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu
yang liar.
Resep
ber-mau'idzah hasanah dengan kelembutan telah sukses dicontohkan nabi
teladan kita, Muhammad saw., sebagaimana Al Qur'an menegaskan; "Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu". (Ali Imran: 159).
Maka -lagi-lagi- jika ada model-model penyebar ajaran islam dengan cara
sebagaimana gambaran diatas tentu jauh dari kata selaras dengan 'Maqasidu ad
Da'wah'. Sebab, rumusan dasar yang sudah ditetapkan dalam Al Qur'an atau 'laku'
kanjeng Nabi saw. yang pernah dicontohkan tidak tercermin sama sekali dalam
tindakan tersebut diatas. Wallahua'lam bisshawab.
* Kenitra, 9 Nopember 2012
silakan lihat juga: http://agama.kompasiana.com/2010/12/16/membongkar-kebohongan-h-mahrus-ali-dan-rekayasa-busuk-wahabi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar