Oleh: Ali syahbana
Bulan
Dzulhijah merupakan bagian dari asyhurul fadilah (bulan-bulan keutamaan)
dan asyhurul haram (bulan-bulan mulia). Dalam bulan ini banyak dari
hamba-hamba Allah -yang diberi kemampuan- melakukan perjalanan untuk menunaikan
ibadah haji, menyempurnakan rukun islam yang kelima, dan yang tidak kalah
penting ta’abbudan lillah yaitu beribadah (berhaji) semata-mata karena
Allah, bukan karena ingin dipuji orang (riya’), bukan disebabkan agal gelar
haji melekat dinamanya dan bukan karena motif-motif lainnya.
Selain
kewajiban berhaji menuju baitullah, dalam bulan ini dianjurkan juga bagi
segenap umat islam untuk melakukan ibadah puasa. Baik puasa yang dilakukan
mulai tanggal 1 Dzulhijah ataupun berpuasa hanya tanggal 9 Dzulhijah (satu hari
sebelum ‘idul adha) yang terkenal dengan sebutan hari arafah.
Keutamaan
Berpuasa di Bulan Dzulhijah
Dalam
Riwayat Imam Muslim, salah satu periwayat yang bersama Imam Bukhari diakui
keshahihan riwayatnya oleh para ulama, dari Abu Qatadah r.a. berkata bahwa
Rasulullah saw. ditanya perihal berpuasa pada hari Arafah, yaitu tanggal 9
Dzulhijjah. Beliau saw. lalu bersabda: "Puasa pada hari itu dapat menutupi
dosa pada tahun yang lampau serta tahun yang akan datang." (lihat: Riyadus
shalihin, Kitab al Fadhail)
Dilain tempat Imam Bukhari meriwayatkan tentang keutamaan bulan Dzulhijah, dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Tidak ada hari-hari yang mengerjakan amalan shalih pada hari-hari itu yang lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama Dzulhijah. Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, apakah juga tidak lebih dicintai oleh Allah meskipun jihad fi-sabilillah? Rasulullah saw. menjawab: "Meskipun berjihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan dirinya dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan membawa sesuatu apa pun dari yang tersebut - yakni setelah berjihad lalu mati syahid. (lihat juga: Riyadus shalihin, Kitab al Fadhail).
Dan
juga sabda Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah r.a.:
“Tidak
ada hari-hari yang didalamnya melakukan
amalan shalih yang lebih utama dan dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari
pertama Dzulhijjah. Jika berpuasa satu hari pada hari tersebut maka sama
seperti berpuasa satu tahun. Jika ber-qiyamul lail (shalat malam) pada
hari tersebut maka sama seperti ber-qiyamul lail pada lailatul qadar”.(HR.
Tirmidzi dan Ibnu majah).
Segelintir
riwayat diatas merupakan isyarat bahwa sepuluh hari di bulan Dzulhijah memiliki
banyak keutamaan. Bagi mereka umat islam yang melakukan amalan sholeh di
sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijah, maka pahalanya lebih utama dari dari
pada berjihad di jalan Allah saw..
Disamping
itu, Berpuasa juga merupakan hal yang sangat dianjurkan pada bulan tersebut.
Terlebih perupamaan yang mengatakan bahwa satu hari berpuasa pahalanya sama
dengan berpuasa satu tahun. Serta berpuasa pada hari arafah bisa melebur dosa
tahun yang telah lalu dan yang akan datang.
Imam
Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Fathul Bari, penjelas dari kitab
Sahih Imam Bukhari, mengatakan bahwa sebab diistimewakannya sepuluh hari Dzulhijah
adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah
pokok yaitu shalat, puasa, sedekah dan haji, dan hal itu tidak didapatkan pada
hari-hari lain.“
Akhirnya,
marilah kita manfaatkan kesempatan bulan Dzulhijah ini dengan meningkatkan
amalan-amalan saleh. Dan jika kita tengok lebih jauh tentang keutamaan dibulan
ini, bukan hanya amalan puasa saja yang dianjurkan dan disebutkan secara gamblang.
Akan tetapi memperbanyak melakukan sholat (baik wajib maupun sunnah), banyak
berzikir kepada Allah (tahlil, takbir, tahmid, atau bentuk dzikir lainnya),
bersedekah, berqurban (menyembelih binatang) dan lain sebagainya pun merupakan
hal yang dianjurkan untuk diamalkan.
Dari
Ibnu Umar radliyallah ‘anhuma berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak
ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah swt. dan tidak ada amal perbuatan
yang lebih dicintai-Nya selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada
hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid.“ (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam
al-Kabir). Wallahua’lam bisshawab.
* Tulisan ini pernah dimuat di buletin 'Sayyidul Ayyam' PPI Maroko, 03 November 2010 M/25 Zulqa’dah
1431 H..
* Pernah dimuat juga di http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,40417-lang,id-c,kolom-t,Bulan+Dzulhijah-.phpx
* Pernah dimuat juga di http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,40417-lang,id-c,kolom-t,Bulan+Dzulhijah-.phpx
2 komentar:
Mantap Ust H. Ali
Terimakasih ustd. Ilmunya,, ilmu yg sangat bermanfa'at,,,
Posting Komentar