Oleh: Ali Syahbana*
Tepat pada Jum’at malam (05/04) penulis berkesempatan menghadiri acara
silaturahmi dan sarasehan atau diskusi bersama KH. Sholahudin Wahid yang bisaa
dipanggil ‘Gus Sholah’ di Wisma Duta RI untuk Kerajaan Maroko. Gus Sholah
sendiri sepaham penulis saat itu kebetulan sedang ‘mampir’ atau mengadakan
kunjungan muhibah disela-sela perjalanannya menuju Spanyol bersama satu tim
rombongan dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Boleh dibilang, termasuk hal menarik untuk diketengahkan adalah
‘oleh-oleh’ beliau tentang potret bangsa Indonesia saat ini yang tentunya bisa
menjadi bahan acuan bagi mahasiswa Indonesia di Maroko ketika ingin ambil
bagian dalam proyek menjadi agen perubahan.
Dalam pemaparannya beliau menjelaskan bahwa adanya kemajuan yang
dialami bangsa Indonesia beberapa tahun kebelakang merupakan hal yang tidak
bisa dipungkiri. Namun, kita juga tidak bisa mengelak jika faktanya masih jauh
tertinggal oleh Negara-negara tetangga, termasuk Malaysia.
Dalam hal kesejahteraan rakyat misalnya, bisa dikatakan bangsa
Indonesia masih terpuruk. Sebab bila dikalkulasikan dengan standar pendapatan
dunia, yaitu 2 USD/hari, maka sebanyak lebih kurang 117 juta rakyat Indonesia
masuk dalam radar kemiskinan. Berbeda jika dibandingkan dengan Malaysia
misalkan yang hanya 7 % (sekitar 2 juta rakyat miskin) dari 30 jutaan jumlah
penduduk. Atau dengan China yang hanya sekitar 10 % (sekitar 150 juta rakyat
miskin) dari 1,4 milyar jumlah penduduk.
Selain itu, pemasukan dana pajak yang belum memadai dan maksimal juga
merupakan sebab ketertinggalan bangsa Indonesia. Buruknya pengelolaan dan
adanya keringanan terhadap pengusaha-pengusaha dengan tanpa imbalan yang
memadai menjadikan kemajuan negri ini tersendat. Meskipun pada akhirnya pemerintah
menaikkan biaya pajak bagi para pengusaha, tetap saja masih belum memberikan
hasil yang signifikan.
Disektor pendidikan pun demikian. Ketertinggalan standar kompetensi
dengan negara-negara tetangga. Ditambah orientasi pendidikan yang ‘mentok’ pada
pengajaran, dalam artian hanya berhenti pada penyalurkan ilmu saja lalu lepas
tangan dan bukan pada hakikat pendidikan yang berwujud nilai output dalam
laku keseharian, menjadi hal yang menarik untuk disikapi dan ditindaklanjuti.
Hanya saja, poros utama dalam kemandegan perkembangan bangsa Indonesia
menurut beliau ialah masih lemahnya penegakan hukum. Adanya tekak-tekuk hukum
yang menahun serta penegakkan hukum yang tidak setegak-tegaknya bisa dilihat
oleh rakyat jelata dalam fenomena-fenomena yang ada. Ditambah lagi birokrasi
pemerintah yang terkadang jauh dari nilai-nilai pancasila yang tidak hanya
dibicarakan tapi jauh lebih perlu untuk diamalkan, seperti terwujudnya keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Lalu jika keadaannya seperti ini, bagaimana agar bangsa Indonesia
tetap mampu melesat maju??
Tentunya untuk menuju perubahan dan kemajuan tersebut perlu dimulai
dari tiap-tiap individu masyarakat. Penanaman sikap jujur misalkan perlu
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga apabila karakter tersebut
telah melekat dalam diri masing-masing, bisa dilebarkan cakupannya terhadap
keluarga, lembaga-lembaga, bahkan partai-partai politik yang sedikit banyaknya bisa
memberikan pengaruh pada perubahan dan kemajuan bangsa. Meskipun hakekatnya
kebanyakan partai politik tidak ada yang benar-benar atas nama rakyat, tapi
lebih pada bagaimana modal yang keluar bisa berubah menjadi keuntungan atau
mnimal balik modal sebagaimana teori perdagangan.
Disamping berangkat dari karakter tiap-tiap individu, juga perlu
diterapkan dengan sebenar-benarnya perekonomian yang sesuai Undang-Undang Dasar
Republik Indonesia. Agar cita-cita untuk menyejahterakan rakyat serta memajukan
sebuah bangsa bisa terwujud.
Walhasil, sependek yang penulis tangkap dari hal diatas, jika
dikaitkan dengan rumusan dasar dalam islam tentu banyak kaidah-kaidah baik dari
ayat al Qur’an ataupun Hadits yang salah satu esensinya menyatakan bahwa dengan
manusia yang berakal, hati dan pikiran yang jernih lagi sehat akan bisa
memberikan pengaruh pada pencapaian-pencapaian yang penuh maslahat. Dan tentunya
sebuah kejujuran, keadilan, kearifan maupun ketidakserakahan berangkat dari kejernihan
hati dan kesehatan akal pikiran.
Bukankah Tuhan yang maha bijaksana tidak akan merubah sebuah kenikmatan
selagi manusia tidak merubah atau merusak tatanan kenikmatan itu dengan tidak
mensyukuri dan memanfaatkannya dijalur yang semestinya?? Bukankah kerusakan dan
kemerosotan kualitas sering disebabkan oleh kelakuan manusia itu sendiri??,
Hanya saja Tuhan yang maha pemaaf sering memberikan dispensasi dan kemurahan.
Wallahua’lam.
* ‘Santri’ di Universitas Ibnu Thufail Kenitra, Maroko.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar