Jumat, 22 Juni 2012

Kado Terindah Dari Rajab


Oleh: Ali Syahbana

Beberapa hari yang lalu, ada sebagian -kalau tidak semua- ulama dalam negeri mengumumkan tentang jatuhnya awal bulan Sya’ban. Dan sudah barang tentu dengan beredarnya keputusan para pakar teropong bulan sabit tersebut, pertanda bahwa bulan Rajab telah habis masa aktifnya secara hitung-hitungan kalender hijriyah tahun ini.

Bulan yang secara sah dinyatakan kemuliaannya, untuk sementara harus rela menunggu giliran untuk menampakkan kembali kemuliaannya. Bulan yang banyak menyimpan keistimewaan dan keutamaan, kali ini harus terima untuk tidak menampakkan keistimewaan dan kemuliaannya. Bulan Rajab mesti legowo memberikan estafet kalenderisasi ke tetangganya, Sya’ban.

Namun kendati demikian, Rajab setidaknya masih tetap bisa berbangga diri. Masih bisa memberikan kenikmatan-kenikmatan dari imbas positif yang melekat pada dirinya. Meskipun telah tergantikan oleh Sya’ban atau bulan lainnya. Apa pasal?? Hal itu tidak lebih dari berkah status “Bulan Istighfar” yang melekat pada Rajab. Serta syafa’at yang ia peroleh dari peristiwa agung “Isra’ Mi’raj”. Peristiwa yang menjadikan Nabi teladan, Muhammad saw., dalam waktu singkat dimalam hari melakukan diplomasi kemaslahatan (permohonan) dengan Tuhannya, yang salah satu deal kesepakatannya berupa kewajiban shalat lima waktu dalam sehari, kewajiban untuk beliau sebagai teladan dan untuk umat islam yang mengaku atau selaku pengikutnya.

Dua hal tersebut (shalat dan pembiasaan istighfar) merupakan kado terindah dari Rajab yang tak akan usang ditelan zaman. Dari masa ke masa, dari Rajab ke Rajab berikutnya. Shalat merupakan dekrit resmi Sang Maha Kuasa yang, sebagaimana banyak riwayat mengatakan, menjadi tonggak utama dalam kalkulasi akhir amal perbuatan manusia di hari perhitungan kelak. Kalau baik shalat seorang hamba, sempurna lima waktu dalam sehari, meskipun secara qadhaan (shalat diluar waktu yang sudah ditentukan karna alasan yang sah), maka jalan menuju kebahagiaan akhirat pun akan ikut mulus. Jika shalatnya gradal gradul, semoga saja keagungan sifat Maha Penyayang Allah swt. bisa menjadi pembelok nasib.

Sedangkan istighfar (salah satu kalimatnya: astaghfirullahal’adzim wa atubu ilaih) merupakan sms permohonan ampunan seorang hamba kepada Tuhannya. Disadari atau tidak, manusia adalah makhluk yang tidak pernah luput dari khilaf dan dosa. Manusia sering latah dengan kesalahan-kesalahan, baik kecil maupun besar. Manusia juga kadang rileks saat ia tidak patuh terhadap tata aturan -termasuk perintah shalat lima waktu- yang dibuat Allah swt., selaku Penciptanya. Dan tentunya dengan benar-benar sadar akan kekerdilan dirinya selaku manusia yang sering mbeling, sering tidak menghambakan diri kepada Allah swt., istighfar merupakan salah satu jalan yang ampuh untuk menghapus kesalahan dari amal perbuatan manusia, membersihkan noda-noda kotor yang sudah banyak melekat pada hati manusia. Istaghfiru Rabbakum innahu kaana ghaffara, mohon ampunlah kepada Allah swt. karna Dialah yang benar-benar Maha Pengampun.

Dengan masuknya bulan Sya’ban yang dikenal dengan bulan “slawatan”nya, tidak serta merta menjadikan manusia nge-lupa akan kado terindah yang tulus diberikan Rajab. Seseorang yang mengaku bagian dari umat Nabi teladan saw. patutnya  harus menengok kembali bagaimana beliau menikmati keindahan kado tersebut. Bagaimana penghambaan total sosok teladan yang tentunya tidak berhenti pada ketaatan menjalankan shalat lima waktu semata. Juga bagaimana sosok yang jelas-jelas dibebaskan dari kesalahan selalu beristighfar dalam sehari-hari sebanyak 70 kali, bahkan lebih. Masih pede-kah orang tersebut mengaku pengikut keteladanan nabi agung Muhammad saw.?? Semoga saja. Wallahua’lam bisshowab.

Kenitra, 22 Juni 2012 (02 Sya'ban 1433 H)

Tidak ada komentar: