Oleh: Ali Syahbana
Beberapa hari yang lalu, ada sebagian -kalau
tidak semua- ulama dalam negeri mengumumkan tentang jatuhnya awal bulan Sya’ban.
Dan sudah barang tentu dengan beredarnya keputusan para pakar teropong bulan
sabit tersebut, pertanda bahwa bulan Rajab telah habis masa aktifnya secara
hitung-hitungan kalender hijriyah tahun ini.
Bulan yang secara sah dinyatakan
kemuliaannya, untuk sementara harus rela menunggu giliran untuk menampakkan
kembali kemuliaannya. Bulan yang banyak menyimpan keistimewaan dan keutamaan, kali ini harus terima untuk tidak menampakkan keistimewaan dan kemuliaannya.
Bulan Rajab mesti legowo
memberikan estafet kalenderisasi ke tetangganya, Sya’ban.
Namun kendati demikian, Rajab setidaknya
masih tetap bisa berbangga diri. Masih bisa memberikan kenikmatan-kenikmatan
dari imbas positif yang melekat pada dirinya. Meskipun telah tergantikan oleh
Sya’ban atau bulan lainnya. Apa pasal?? Hal itu tidak lebih dari berkah status “Bulan
Istighfar” yang melekat pada Rajab. Serta syafa’at yang ia peroleh dari
peristiwa agung “Isra’ Mi’raj”. Peristiwa yang menjadikan Nabi teladan,
Muhammad saw., dalam waktu singkat dimalam hari melakukan diplomasi kemaslahatan (permohonan) dengan Tuhannya,
yang salah satu deal kesepakatannya berupa kewajiban shalat lima waktu dalam
sehari, kewajiban untuk beliau sebagai teladan dan untuk umat islam yang
mengaku atau selaku pengikutnya.
Dua hal tersebut (shalat dan pembiasaan istighfar)
merupakan kado terindah dari Rajab yang tak akan usang ditelan zaman. Dari masa
ke masa, dari Rajab ke Rajab berikutnya. Shalat merupakan dekrit resmi Sang
Maha Kuasa yang, sebagaimana banyak riwayat mengatakan, menjadi tonggak utama
dalam kalkulasi akhir amal perbuatan manusia di hari perhitungan kelak. Kalau baik
shalat seorang hamba, sempurna lima waktu dalam sehari, meskipun secara qadhaan
(shalat diluar waktu yang sudah ditentukan karna alasan yang sah), maka
jalan menuju kebahagiaan akhirat pun akan ikut mulus. Jika shalatnya gradal
gradul, semoga saja keagungan sifat Maha Penyayang Allah swt. bisa
menjadi pembelok nasib.
Sedangkan istighfar (salah satu
kalimatnya: astaghfirullahal’adzim wa atubu ilaih) merupakan sms permohonan
ampunan seorang hamba kepada Tuhannya. Disadari atau tidak, manusia adalah
makhluk yang tidak pernah luput dari khilaf dan dosa. Manusia sering latah
dengan kesalahan-kesalahan, baik kecil maupun besar. Manusia juga kadang rileks
saat ia tidak patuh terhadap tata aturan -termasuk perintah shalat lima waktu- yang
dibuat Allah swt., selaku Penciptanya. Dan tentunya dengan benar-benar sadar
akan kekerdilan dirinya selaku manusia yang sering mbeling, sering tidak
menghambakan diri kepada Allah swt., istighfar merupakan salah satu jalan yang
ampuh untuk menghapus kesalahan dari amal perbuatan manusia, membersihkan
noda-noda kotor yang sudah banyak melekat pada hati manusia. Istaghfiru Rabbakum
innahu kaana ghaffara, mohon ampunlah kepada Allah swt. karna Dialah yang
benar-benar Maha Pengampun.
Dengan masuknya bulan Sya’ban yang dikenal
dengan bulan “slawatan”nya, tidak serta merta menjadikan manusia nge-lupa
akan kado terindah yang tulus diberikan Rajab. Seseorang yang mengaku bagian
dari umat Nabi teladan saw. patutnya harus
menengok kembali bagaimana beliau menikmati keindahan kado tersebut. Bagaimana penghambaan
total sosok teladan yang tentunya tidak berhenti pada ketaatan menjalankan
shalat lima waktu semata. Juga bagaimana sosok yang jelas-jelas dibebaskan dari
kesalahan selalu beristighfar dalam sehari-hari sebanyak 70 kali, bahkan lebih.
Masih pede-kah orang tersebut mengaku pengikut keteladanan nabi agung
Muhammad saw.?? Semoga saja. Wallahua’lam bisshowab.
Kenitra, 22 Juni 2012 (02 Sya'ban 1433 H)
Kenitra, 22 Juni 2012 (02 Sya'ban 1433 H)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar